Showing posts with label vacation. Show all posts
Showing posts with label vacation. Show all posts

Thursday, 18 September 2008

gara-gara Ngademm...

puasa-puasa kayak gini enaknya ngadem..
nah berhubung saya ga punya tempat yang pas buat ngadem (-kan tenggorokan dan kepala..hehe), dan satu-satunya tempat yang paling bisa buat ngadem hanyalah warnet!!! siang sekitar jam 12 tettt..(puanasss banget bro..) saya memutuskan untuk pergi ke warnet kesayangan saya Urgent-net...wuih wadalah...cesssss...pertama kali masuk ke etalase warnet ini..ga ada tujuan lain sih, cuma buat ngadem aja...iseng nyambamgi blogku ter'baik'..(hahaha..), cuma ada salam komentar dari temen ku yang juayyyussss...(capek deh..)..

yaw udah, iseng-iseng posting narasi ini..eits..familiar banget yach ni narasi
ya iyalah, masa' ya iya dunk..pengurus BAK AWS aja MIla, buka Mi-DONG!!..(hehe...g penting yach..), ni kan lirik lagu kesayanganku...

sudah selesai mosting n dengerin musik ga jelas, buka blog yang nyasar, ehhh,,,, ga terasa 10 menit lagi wes buka puasa,,,,la dalahh... mosting gini aja 5 jam!!!


tiada yang salah dengan perbedaan
dan segala yang kita punya
yang salah hanyalah, sudut pandang kita
yang membuat kita terpisah...
karena tak seharusnya
perbedaan menjadi jurang
bukankah kita diciptakan
untuk dapat saling melengkapi
mengapa ini yang terjadi...
mestinya perbedaan bukan alasan
untuk tak saling memahami
harusnya cinta bisa memberi jalan
tuk satukan semua harapan

lirik ini COZZI abies...

Saturday, 10 May 2008

Relung Romansa House of Sampoerna

Begitu klasik dan apik desain ruangnya sehingga bikin kita merasa nyaman.

Melangkah kaki sejenak imaji terbawa dalam nuansa romansa bangunan bergaya kolonial Belanda. Bayangan masa lampau diiringi nada jazz klasik mengalun lamban siap manjakan kita.
Di Café House of Sampoerna memang nampak nyentrik dengan atap ruang yang bergaya klasik Belanda. Dengan didukung 12 bola lampu kuning terang temaram mewarnai ruangannya.
Sembari menikmati nuansa itu, kita bisa duduk santai menikmati beragam menu minuman yang tersedia di cafe dekat LP. Kalisosok Surabaya itu. Seperti alkohol ringan, milkshake, shake capuccino, dan beberapa minuman khas barat lainnya.
Untuk makanan pun tersedia dengan variatif menu pilihan ala barat, seperti salad, side dish, hot plate, soup, barbeque, chicken teriyaki Jepang, beef black pepper, dan masih banyak menu lainnya. Selain itu juga tersedia bermacam-macam menu khas jawa, seperti martabak, mie goreng Lamongan, tumis sayuran, nasi goreng jawa, sate ayam, sate kambing dan sebagainya.
Setelah sambil menikmati sajian menu minuman maupun makanan di sana, kita akan terbawa pada kenangan masa lampau. Menurut sejarah komplek bangunan yang berdiri megah bersama museum, dan art galerinya ini dibangun pada 1862 lalu.
Awal dari berdirinya tempat unik ini dulu digunakan sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda, komplek ini dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna.
Konsep yang ditawarkan café berkapasitas 100 orang itu adalah menawarkan suasana yang benar-benar santai, layaknya di rumah sendiri. “Karena ini adalah bekas rumah, maka kami tidak akan mengganti atmosfer itu, tetap kami menginginkan pengunjung yang datang bagai di rumahnya sendiri,” kata Pamela Ryanto, Marketing Senior Eksekutif (MSE) Café House of Sampoerna.
Biasanya pihak pengelola café ini selalu menawarkan program promosi yang menarik, pada Juni hingga Juli. Yang diberikan kalanya berupa konsep Barbeque yang dilakukan di taman cafe, margarita, pasta and wine promotion. Belum lagi, terkadang cafe yang buka setiap hari, pukul 09.00-22.00 WIB, menggelar event music dengan mendatangkan artis-artis dari Jakarta dan mancanegara.

Singgah Pebisnis
Dengan tiga station yang berada dalam lokasi berjajaran, pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman yang tersaji dalam katalog menu Café House of Sampoerna.
Bagi yang ingin menikmati suasana nyaman dan tenang untuk berbincang dengan kawan, anda pun bisa menemukan mini bar di café ini. Mini Bar bergaya klasik berpadu dengan modern pub, yang menyajikan berbagai jenis minuman bergaya barat.
Jika anda yang ingin merasa privasi, anda bisa menggunakan satu ruangan VIP dengan konsep ruangan tertutup. Sepuluh kursi bersama dengan pemandangan kunonya akan melayani kenyamanan pengunjung. Umumnya pengguna fasilitas ini adalah para pengusaha atau pebisnis yang sedang meeting.
“Kebanyakan pengunjung kami adalah para pebisnis dari Surabaya atau bahkan dari luar kota,” ucap Rani Anggraini, Marketing Manager Café House of Sampoerna pada EastJava Traveler.

Warung Cangkruk Mampir di Bintang Tiga

Dengan gayanya yang unik nan menarik, Warung Cangkruk Delta Garden serasa membawa kita berada dalam suasana Surabaya tempo doeloe.

Saat memasuki etalase Loby Bar Garden Palace Hotel, dekorasi serta perabot warung cangkruk yang antik dan tradisional langsung memanjakan mata kita. Adalah Warung Cangkruk delta Garden yang berada di garden Hotel, Jalan Pemuda 21 Surabaya. Kesan jawa dan kuno semakin melekat karena Warung Cangkruk Delta Garden, berada diantara ruang-ruang yang penuh dengan perabot dan dekorasi modern. Namun, ia tetap menjadi daya tarik bagi siapa saja yang berkunjung di Garden Hotel.

Dari jarak kurang lebih 30 meter memasuki tiga anak tangga kecil menuju warung cangkruk, tempat ini nampak selayaknya warung yang berada di desa atau bahkan di pinggiran jalan pada umumnya. Atapnya tertutup genteng berwarna coklat tua. Gazebo yang terbuat dari besek bambu dengan 4 pilar kokoh dari ukiran kayu jati seakan menambah nuansa warung di pedesaan.

penempatan interior perabot-perabot tua di dalamnya pun menambah kesan tua dan kuno warung ini. Kursi-kursi pendek dan beberapa dengklek panjang yang terbuat dari kayu jati, ditempatkan bersama dengan meja kayu persegi panjang berwarna hitam kecoklatan. Setiap meja terdiri dari empat kursi. Belum lagi gubuk gazebo yang dikemas tempo doeloe layaknya mini bar, bersama dengan lima kursi kayu di depannya. Seluruhnya bisa menampung sekitar 30 orang. Penempatan yang disusun berjejer rapi dan lenggang membuat ruangan nampak luas dan nyaman.

Nuansa kuno juga terlihat dari foto-foto yang dipajang apik di setiap dinding. Foto Siola pada tahun 1940 an, foto Kembang Jepun tahun 1927 an, hingga potret Jalan Pemuda pada tahun 1914 an dalam balutan foto hitam putih dapat dinikmati disini.

Ingin sentuhan lawas lainnya? Dua waitress wanita yang bertugas melayani makanan dan minuman tamu pun, tampak anggun dengan dandanan ala orang ndesonya. Dengan balutan kebaya jawa jaman dulu, mengenakan sewek berwarna coklat tua lengkap dengan cantingan batiknya, serta selendang yang menyelempang di pundaknya, seakan-akan bergaya layaknya gadis desa.

Salah satu penambah keunikan warung cangkruk ini adalah perabot-perabot lawas yang sengaja di letakkan diwarung, seperti halnya penegasan identitas sebagai warung kuno. Antara lain, Radio kuno yang ditempatkan dipojok gazebo ditemani lampu petromax tua. Di sudut sisi kanan gazebo terdapat ornamen-ornamen lawas, diantaranya sepeda onthel kuno, kendi tua yang terbuat dari tanah liat merah, bakiak, serta topi caping petani desa siap menemani pengunjung menikmati makanan dan minuman yang dipesan.

Kerja Sama Dengan Radio Delta FM
Warung Cangkruk Delta Garden memiliki sejarah singkat. Warung ini tercatat masih baru, saat ini umurnya baru menginjak empat tahun. Garden Palace Hotel bekerja sama dengan radio Delta FM yang juga berlokasi di Garden hotel, meluncurkan warung tersebut pada 21 Juli 2004 lalu.

Berdirinya warung cangkruk itu, atas inisiatif para pengelola Radio Delta FM. “Awalnya, karena tidak ada tempat cangkruk yang benar-benar nyaman untuk teman maupun kolega, Harli Prayuda, mantan Genderal Manager (GM) Delta FM, memberikan ide kepada pihak pengelola garden hotel untuk mendirikan sebuah tempat yang unik dan beda dengan yang lainnya. Namun, masih memberikan daya tarik tersendiri,”ujar Yohana Siagian, Public Relation Garden Palace Hotel.

Warung beratmosfer jawa kuno layaknya Surabaya tempo doeloe berdiri apik nan menarik bersanding di samping Orchid Restaurant yang juga berlokasi di Garden hotel. “Kami sepakat dengan konsep seperti ini, karena ingin memberikan kenyamanan dan keakraban khas Surabaya tempo doeloe yang dirindukan selama ini,”kata Hari Purnomo, Koordinator Outlet dan Manager Warung Cangkruk Delta Garden kepada EastJava Traveler.

Di warung Cangkruk ini, setiap hari Rabu digelar diskusi yang disiarkan langsung oleh Delta FM yang mengulas topik-topik terhangat di Surabaya. Alunan lagu-lagu nostalgia dari Delta FM pun menjadi perpaduan yang tepat bersama sajian secangkir kopi tubruk atau wedang jahe, sebagai teman mengobrol.

Menunya pun, Menu Ndeso

Senada dengan penampilan artistik ruangannya, makanan dan minuman yang disajikan pun mencerminkan nuansa kuno, tua, dan ndeso. Warung cangkruk yang didominasi oleh warna cokelat tua ini, menyajikan hidangan khas jajanan warung Surabaya dengan harga yang sangat terjangkau, jika dilihat tempatnya yang berada di lingkungan hotel berbintang tiga.

Mulai dari Es Dawet ‘Blauran’, kopi tubruk, wedang jahe, sari kedelai, Es Cao, es teh, sampai aneka jajanan pasar seperti lemper ayam, rengginang, kue kering, tape goreng, tahu isi, ote-ote ‘peneleh’, hingga aneka jenis gorengan dan jajanan tradisonal lainnya. Untuk kenikmatannya rasanya, anda tak perlu khawatir. Semua menu yang dipesan dibuatkan terlebih dahulu oleh chef warung cangkruk. Hanya menunggu 5-10 menit, jajanan panas khas warung cangkruk delta garden siap anda nikmati. Anda pun tak perlu merogoh banyak kocek, untuk minumannya mulai dari Rp 4 ribu-Rp 12 ribu nett/porsi, dan Rp 4 ribu-Rp 6 ribu nett/buah untuk makanannya.

Demi menarik minat tamu inap maupun yang sekedar berkunjung di Garden hotel, warung yang buka pukul 13.00 hingga 23.00 wib ini, tak hanya menawarkan jajanan dan minuman sederhana saja. Warung ini juga memasukkan menu-menu baru untuk promosinya. Seperti halnya pada bulan Mei ini warung ini telah mengeluarkan Nasi Rawon Goreng sebagai menu promosinya. Rencannya pada bulan Juni mendatang mereka akan mempromosikan Nasi Sotonya. dengan harga Rp 15 ribu, anda dapat menikmati makanan dengan nuansa khas ala Surabaya tempo doeloe.

Thursday, 10 April 2008

Telaga Ngipik, Andalan Gresik




Suasana alam yang hijau dari pantulan dedaunan bukit Giri, menghapus stereotip masyarakat akan kota Gresik sebagai area panas dan berpolutan. Hal ini terbukti saat barisan pepohonan berikut taman-taman kota, selalu siap menyejukkan mata pengunjungnya. Gresik yang kaya akan hasil industrinya dan kulinernya, menjadi pilihan tepat lokasi wisata keluarga.

Suasana sejuk, tenang, nyaman langsung terasa begitu sampai di tempat wisata Giri Wana Tirta. Dekat dari jalan raya memasuki desa Ngipik melewati ruas jalan menurun menuju ke danau, kita bisa memandang hamparan air hijau membiru yang luas. Kepenatan perjalanan darat lebih dari satu jam dari Kota Surabaya pun langsung sirna.

Di warung-warung sederhana pinggir jalan, banyak dijumpai pelancong lokal menghabiskan waktu berjam-jam memandangi wisata buatan itu, sambil menyeruput kopi dengan nikmat. Angin bertiup sepoi-sepoi menambah segarnya suasana. Menghirup udara perbukitan kota Gresik membuat sendi-sendi dan tubuh menjadi lebih bugar dan pikiran damai.


Tak dikenal warga Gresik
Giri wana Tirta yang lebih popular dengan nama Telaga Ngipik merupakan salah satu tempat wisata yang dikelola apik oleh PT Swabina Gatra, salah satu Grup dari PT Petrokimia Gresik sejak tahun 2002 silam. Nama giri wana Tirta diadopsi dari karakteristik lokasi telaga Ngipik. Diantaranya Giri berarti Kebesaaran dari Sunan Giri yang makamnya bertempat di kota Gresik. Wana berarti hutan dan pepohonan yang mengelilingi tempat wisata ini, dan Tirta yang berarti air, sengaja dipakai karena menyuguhkan telaga Ngipik yang mempunyai unsur air.

Swijiharyoyok (35) Kepala pengelolah Giri wana Tirta, menjelaskan tempat wisata ini tercipta karena berawal dari asal mula lahirnya telaga Ngipik. Telaga Ngipik sendiri ini terbentuk dari penambnagan tanah lapang oleh PT Petrokimia Gresik, untuk digali dan diambil sebagian tanahnya, dijadikan bahan baku Semen. Karena seringnya dilakukan eksploitasi tanah, terbentuklah lubang seluas 20 hektar dalam waktu singkat.

Demi menghindari kerugian pada alam, PT Petrokimia Semen Gresik sengaja bekerja sama dengan organisasi Bina Lingkungan. Dalam kegiatannya, perusahaan penghasil Semen itu, berinisiatif membuat lingkungan di sekitar pabriknya agar terhindar dari polusi akibat limbah industri. Lalu difungsikanlah lahan berlubang itu menjadi telaga Ngipik. Karena tempatnya masih berada dalam wilayah desa Ngipik, sehingga masyarakat pun menyebutnya telaga Ngipik, Gresik.

Seiring bergulirnya waktu, PT Swabina Gatra, pabrik penghasil minuman gelas bermerk Swa itu mendapatkan mandat dari PT Petrokimia Semen Gresik untuk mengelolah Telaga Ngipik agar dijadikan tempat wisata wilayah Jawa Timur. Mendapat dukungan dari Pemda, PT Swabina Gatra sengaja mengelolah tanah dan pepohonan yang mengitari telaga Ngipik untuk dijadikan taman dan tempat bermain bagi masyarakat umum.

Pemerintah Kabupaten Gresik pun menjadikan Wisata Telaga Ngipik maupun Giri Wana Tirta sebagai sumber pemasukan daerah sector pariwisata. Namun, seiring berjalannya waktu, tempat wisata yang berada di tengah-tengah kawasan industri PT petrokimia Gresik, terabaikan pengelolaannya.

Di depan gapura saat memasuki tempat wisata ini, tak satupun terlihat papan nama yang bertuliskan tempat Wisata Telaga Ngipik, Giri Wana Tirta. Hal itu secara langsung berdampak pada minimnya pengenalan tempat wisata ini kepada masyarakat. Pihak pengelola menjrlaskan tidak dipasangnya nama tempat wisata, karena alasan belum mengurus pembiayaan pajak area.

Karena hal ini, masih banyak masyarakat Gresik yang belum mengetahui keberadaan Telaga Ngipik. Selain karena masih banyak yang lebih suka memilih wisata religi, lemahnya promosi wisata Telaga Ngipik yang dilakukan pihak Pemkab merupakan salah satu faktor "terlupakannya" tempat wisata ini.

Padahal, Hampir setiap hari Sabtu dan Minggu cukup banyak masyarakat Gresik yang menyempatkan berekreasi di tempat tersebut. Seperti yang terlihat pada hari Minggu (23/3) lalu, puluhan pengunjung tampak menikmati suasana telaga, dengan dikelilingi pepohonan yang hijau dan rindang. Ditempat ini pula kejuaraan Ski Air baik tingkat regional maupun nasional sering diselenggarakan, seperti pada Pekan Olahraga Nasioanl (PON) XX beberapa waktu lalu.


Wisata keluarga
Walaupun tidak setenar tempat ziarah makam Sunan Giri, wisata Telaga Ngipik juga masih digandrungi oleh masyarakat, baik muda-mudi, anak-anak. Maupun keluarga besar.
Bagi yang sudah berkeluarga, keceriaan anak-anak merupakan tujuan berwisata. Seperti yang diungkapkan Anshori, warga Desa Sidorukun, Gresik, "Apalagi di sini sudah tersedia arena permainan anak-anak. Jadi, selain saya dapat istirahat di pinggir telaga, anak-anak bisa bermain sendiri di tempat permainan", ujar Anshori.

Selain permainan anak, di kawasan wisata ini juga disiapkan dua perahu motor yang setiap saat dapat digunakan untuk mengelilingi telaga. Ada 20 tempat duduk dalam kapal motor sepanjang 12 meter itu. Dengan hanya membayar Rp 2.500 setiap penumpangnya dapat menikmati keindahan telaga dengan perahu motor. Tak hanya itu, disediakan pula 10 sepeda air yang bisa digunakan sewaktu-waktu di areal yang sudah ditentukan oleh pengelola. Biayanya juga murah, hanya Rp 5.000 per sepeda air selama 1 jam.

Kalau sekadar ingin menikmati panorama telaga, dermaga milik kelompok olahraga ski air juga bisa dikunjungi. Dari dermaga ini, pengunjung dapat melihat air telaga yang sejuk terutama pada pagi hari ataupun sore hari.

Keberadaan telaga tidak hanya dinikmati wisatawan yang datang dengan keluarganya. Puluhan pemancing juga berdatangan ke Telaga Ngipik untuk menyalurkan hobinya. Bahkan, para pemancing ini biasanya datang lebih awal dibanding pengunjung wisata lainnya.

Meski hasil pancingan yang diperoleh tidak sebanyak dan sebesar dengan ikan yang dipancing di kolam pemancingan pada umumnya, para pemancing tetap merasa puas dengan memancing di Telaga Ngipik tersebut. " Jumlah ikan yang bisa saya peroleh dari tempat ini bukan menjadi soal. Tapi, suasana telaga inilah yang bisa memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi, kalau tempat ini lebih dikelola dengan bagus, saya yakin akan lebih banyak orang yang datang ke tempat ini," ujar Darmanto, salah seorang pemancing.

Alasan berwisata di Telaga Ngipik, Giri Wana Tirta
Letaknya yang ada di tengah jantung Kota Gresik itu membuat tempat wisata Telaga Ngipik cukup mudah dijangkau oleh masyarakat yang hendak berekreasi di tempat tersebut. Lokasinya tepat di sekitar kawasan pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik di Kecamatan Kebomas atau sekitar satu kilometer dari alun-alun Gresik di Jalan Wahid Hasyim.

Untuk sampai di kawasan wisata tersebut dari Surabaya bisa ditempuh selama 30 menit di ruas jalan raya Surabaya-Lamongan. Dari pertigaan tugu PT Petrokimia Gresik, masuk ke arah kanan dan menyusuri jalan lurus sekitar 200 meter. Pintu gerbang Telaga Ngipik akan terlihat di sisi kiri jalan. Wisata Telaga Ngipik dapat menjadi wisata alternatif yang menyenangkan. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang, pengunjung sudah bisa menikmati pemandangan telaga sepuasnya.

Setidaknya, kenikmatan tersebut hampir serupa dengan apa yang bisa pengunjung nikmati ketika berada di telaga waduk Selorejo atau Telaga Sarangan di Magetan. Di areal telaga yang memiliki areal sekitar 100 hektar itu, selain sudah terdapat tempat bermain untuk anak-anak, beberapa stan penjual makanan dan suvenir juga tersedia.

Selain berfungsi sebagai tempai hiburan yang rekreatif, dua tahun lagi pihak pengelolah juga sudah berencana membuat tempat wisata ini menjadi tempat wisata yang edukatif. Rencananya telaga Ngipik ini juga akan dikelola tempat agrowisata yang menyuguhkan kebun buah khusus untuk pelajar.

Makhluk Pemanis Telaga Ngipik

Bosan dengan hiruk pikuk pekerjaan yang tak kunjung selesai, jenuh menghabiskan libur panjang keliling mall dan menjelajah kota. Kenapa tak mencoba berpaling ke suasana tenang perbukitan yang tak jauh-jauh dari perkotaan. Memandangi hijaunya barisan pohon-pohon, tentunya membuat pikiran kita terasa tenang dan nyaman. Kebisingan yang sirna, dan yang ada hanyalah pohon-pohon menjulang tinggi, seakan-akan melindungi kita dari sengatan sinar matahari dan beserta polusi.

Bagi anda yang sudah tahu dengan telaga Ngipik, Gresik. Pasti anda juga sudah pernah mengunjungi dan menikmati adem-nya tempat wisata tersebut. Namun bukan telaga Ngipik yang akan kita jelajahi. Jauh sebelum kita memasuki areal telaga Ngipik, pandangan kita bakan didominasi agung dan indahnya stand-stand yang menjual berbagai macam jenis bunga. Yah, bunga, jajaran stand kembang yang menjadikan maskot telaga Ngipik yang akan mewarnai halaman kepariwisataan telaga Ngipik, Gresik.

Sebanyak enam stand yang tergabung dalam Perhimpunan Pecinta Adenium Indonesia (PPADI ) wilayah Kabupaten Gresik, menawarkan berbagai jenis macam bunga. Mulai dari bunga bonsai penghias halaman rumah sampai jenis bunga koleksi yang harganya selangit. Antara lainnya, jenis adenium, anthurium, gelombang cinta, dan sansivera.

penjual disini umumnya terhitung sudah lama berjualan, diperkirakan bebarengan mulai dibukanya tempat wisata telaga Ngipik, Giri Wana Tirta. Misalnya saja Ninzam Zuhri Khafid, penjual bunga disekitar telaga Ngipik itu mengaku sudah empat tahun berjualan bunga.

Ia dan lima temannya sengaja membuka stand bunga di telaga Ngipik, karena tempatnya yang potensial untuk dikunjungi masyarakat. Pendiri Komunitas Pecinta Adenium Gresik (KOMPAG) ini, selain mengenalkan dan menjual bunga jenis koleksi, juga mempuyai tujuan lain yaitu menjaga keeksistensian komunitas penggemar bunga di Gresik. “kami tidak mau makhluk bernama bunga ini, mengalami nasib tragis seperti Lou Han ang hanya sesaat saja munculnya,”kata Ketua PPADI Jatim ini.

Kawasan stand bunga ini buka pukul tujuh pagi hingga pukul 10 malam, jadi tidak tergantung dengan buka dan tutupnya tempat wisata telaga Ngipik.

SansiVera jadi Incaran Wisatawan Gresik
Kendati tak memiliki daun seindah varian anthurium, namun keunikan bentuk dan daun varian Sansivera yang berfungsi ganda sebagai penyerap racun, kini kembali naik daun, bahkan harganya kini mencapai jutaan rupiah.

Inilah Varian sansivera yang kini tengah diburu oleh kolektor bunga hias, Sansivera Golden farskate Varigata, kalau dulu, sansivera hanya dikenal sebagai tanaman halaman, yang berfungsi ganda sebagai antipolutan (penyerap racun udara). kini sansivera merupakan salah satu jenis tanaman hias yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Menurut Ninzam pemilik Showroom Adenium Bonggol Emas ini, sansi jenis ini merupakan salah satu jenis yang langka, karena itu harganya cukup mahal. jenis sansi yang tumbuh subur di daerah tropis Amerika ini memang memiliki motif dan warna daun yang cukup unik perpaduan antara hijau, kuning dan putih. Sebenarnya Untuk perawatan dan pembiakan tanaman jenis ini cukup mudah dan tidak terlalu membutuhkan perawatan lebih. pembiakannya biasa dilakukan dengan cara pemisahan anakan yang tumbuh tiap tiga bulan sekali. perawatannyapun cukup mudah hanya mebutuhkan penyiraman secara rutin dan teratur.

Hiasan Kerang, Tak patah Arang

Dibalik identitasnya sebagai kota Metropolitan, rupanya kota Surabaya juga bisa dijadikan sebagai tempat jujukan berwisata. Salah satu wisata alam yang pas untuk dikunjungi adalah Pantai Ria Kenjeran.

Selain menikmati keindahan alam atas karunia Tuhan yang menciptakan pantai dengan berbagai manfaat didalamnya, tempat wisata dengan luas 100 hektar itu juga menyediahkan tempat hiburan lainnya. Antara lain taman kota yang teduh dengan pohon-pohonnya, beberapa gazebo untuk tempat bersantai bersama keluarga dan rekan, serta kolam renang yang disuguhkan apik oleh pengelolah.

Jika anda belum puas bermain-main dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Sebelum pulang, sempatkan mampir ke pasar wisata Pantai Kenjeran Lama. Ada banyak pilihan buah tangan. Mulai aneka olahan hasil laut, bermacam souvenir dari kerang atau baju-baju cantik berharga ekonomis.

Ketiga item tersebut ditempatkan dalam tiga lokasi berbeda yang saling berdekatan. Pasar wisata terlihat lebih cantik dan bersih dibandingkan dulu. Para pedagang dikumpulkan dalam satu gedung, masing-masing berlantai keramik berukuran 10x30 meter.

Di tempat ini yang paling terkenal adalah sebagai pusat penjualan cinderamata khas kerajinan laut seperti, tirai yang terbuat dari rangkaian kulit kerang dan keong laut, souvenir patung kecil yang terbuat dari kernagka binatang laut dan benda-benda yang unik hasil kerajinan laut. laut.

Hiasan yang dibuat para pengrajin itu diambil dari berbagai macam jenis kerang yang memiliki bentuk dan warna berbeda-beda keunikan tersendiri. Kebnayakan kerang diambil dari lautan dalam pulau Kalimantan dan Bali. Namun, sesekali juga memanfaatkan limbah kerang dari sekitar Pantai Kenjeran.

Kendati kerang yang diperoleh tidak seindah dari lautan dalam. Ini tentunya akan mempengaruhi harga penjualan kerang itu. “Karena pengolahan menjadikan kerang bagus cukup rumit, jadi harga juga agak tinggi,”kata Indarti salah satu penjual hiasan kerang laut.

Di pasar yang menyediakan souvenir berbahan kerang ini tak hanya dijual bentuk jadi. Kerang-kerang yang sudah dipoles dijual terpisah sehingga, bisa dikreasikan sesuai keinginan.

Cara pengolahan kerang di Kenjeran memang tidak segampang mencarinya. Kerang yang awalnya hitam dan jelek direbus mengguanakan soda api. Setelah itu kerang dicuci kembali dan diletakkan dalam ember berisi air yang mengandung tetesan kaporit. Dan kerang akan berubah bersih dan cantik dengan sendirinya.

Selain mengincar pasaran dari pengunjung Pantai Kenjeran, usaha kerajinan berbahan kerang ini telah merambah ke berbagai wilayah dengan daerah pesanan terbanyak Jayapura, Jakarta, banjarmasin, dan Bandung. Mereka tertarik dnegan hiasan kerang yang menghiasi lemari, frame, lampu gantung, bahkan kerang yang dibentuk menyerupai binatang.

Friday, 18 January 2008

Waktu Luang, Di Taman Bungkul





Sabtu (13/1) malam itu begitu cerah karena awan hitam tidak mengeluarkan air segarnya. Begitu pun juga angin yang menyapa tidak seantusias hari-hari biasanya.

Riuh, gelak tawa, canda riang, seliweran anak-anak yang berlarian, dan cengkerama keluarga mewarnai suasana Taman Bungkul. Ratusan pengunjung hampir setiap malam meramaikan taman kota di Jalan Raya Darmo itu. Ya, dalam sekejap, Taman Bungkul telah menjadi tempat favorit untuk rekreasi keluarga yang mengasyikkan.

Taman Bungkul malam itu begitu ramai. Lebih ramai daripada hari-hari biasanya. Lahan parkir yang memutari taman sejak pukul 21.00 sudah tak mampu lagi menampung kendaraan, sepeda motor maupun mobil pengunjung. Beberapa halaman kantor di sekitar Taman Bungkul pun berubah menjadi tempat parkir sementara.

"Kami terlanjur memutuskan rekreasi ke sini (Taman Bungkul, Red). Ya tak apa harus parkir agak jauh dari lokasi," ujar Danis, warga Manyar Pumpungan yang datang berombongan dengan kawan-kawannya.

Tidak hanya areal parkir yang penuh sesak. Hampir di seluruh sudut taman, tidak ada yang sepi. Di tengah kompleks, pengunjung tumplek bleg. Ada yang duduk-duduk sambil bersenda gurau, berpacaran sambil makan kacang, atau berlari-larian mengejar mainannya yang melayang di udara. Di lokasi ini, juga beroperasi para pengasong makanan-minuman, mainan, dan bahkan tukang ramal. Maka, tak heran bila situasinya jadi seperti pasar malam.

Begitu pula di areal bermain anak-anak atau track untuk para remaja bermain skate board. Tidak ada yang kosong. Bahkan, tidak hanya pemain skate board yang berlatih di situ. Anak-anak remaja yang hobi free style BMX pun tak ketinggalan nimbrung di arena bermain sisi selatan tersebut. Mereka ingin menunjukkan kehebatannya beratraksi dengan sepeda mininya.

Tiba-tiba saja "pyar…". Terdengar suara kaca pecah. Rupanya, seorang pemain free style BMX menabrak lampu taman di sisi timur. Lampu taman yang dipasang rendah (setinggi satu meter) itu pun hancur berkeping-keping di lantai. Sorak-sorai para penonton menyambutnya. Si penabrak buru-buru membersihkan kepingan kaca lampu yang berserakan.

Soal lampu hancur atau raib ternyata bukan hanya kali itu terjadi. Sejak diresmikan Maret silam, puluhan lampu hilang atau remuk, entah diembat maling atau ulah iseng pengunjung. Yang jelas, pengelola Taman Bungkul sudah berkali-kali mengganti dengan yang baru.

Memang, sejauh ini, Taman Bungkul bagai "surga kecil" bagi warga kota. Selain fasilitasnya beragam, taman itu juga nyaman untuk rekreasi keluarga, terutama di sore dan malam hari. Tak mengherankan bila keberadaannya juga mengundang para pedagang asongan dan PKL (pedagang kaki lima). Maka, jangan heran bila di Taman Bungkul sekarang banyak penjaja makanan, mainan, dan suvenir.

"Kausnya Nak, murah, hanya sepuluh ribu," kata seorang pedagang kaus kepada pengunjung.

PKL tidak hanya menempati stan-stan yang disediakan. Ada juga yang menggelar dagangan di sela-sela taman. Dengan berbekal kompor kecil, seorang pedagang mi rebus bisa menjalankan bisnisnya di hamparan rerumputan. Sambil duduk di dingklik, dia meladeni pengunjung yang mengantre.

Di sisi timur taman, di antara deretan PKL kecil, juga terdapat tukang ramal nasib. Biaya yang ditawarkan Rp 8.000. Para pengunjung bisa bertanya jodoh, persoalan rumah tangga, pendidikan, rezeki, hingga tabiat pasangan. "Sini Mbak, mau diramal jodohnya," ujarnya menawari dua gadis yang melintas di dekatnya.

Hanya lima menit, si peramal yang mengaku bernama Haji Syamsul itu sudah bisa tahu peruntungan kliennya. Rupanya, Taman Bungkul telah menjadi lahan empuk untuk mencari rezeki bagi pria asal Malang itu. Betapa tidak, terhitung sejak pukul 21.00 hingga 03.00, dia bisa membawa pulang penghasilan sekitar Rp 300 ribu. Dia mengaku bisa tersenyum bahagia terutama ketika malam Selasa dan malam Jumat lantaran pada malam-malam itu pengunjung yang minta diramal nasibnya relatif banyak. "Barangkali, pada malam-malam itu, orang percaya ketika diramal," ujarnya.

Berjarak satu meter dari si peramal, segerombolan anak muda mengerumuni pedagang yang menjajakan tato temporer. Antrean remaja menanti kerja si seniman menato bagian tubuh mereka. "Keren ya, sudah lama saya ingin ditato yang tidak permanen," kata Dian Afiansyah, pelajar di sebuah SMA kawasan Surabaya Timur, begitu lengan kirinya ditato gambar kupu-kupu.

Kemeriahan taman itu diiringi dengan alunan musik dari orkestra dadakan yang bermain di bagian utara taman. Empat personel pemain musik terlihat begitu asyik memainkan berbagai macam lagu baik domestik maupun luar negeri. " Kami kerap main disini, bahkan nyaris tiap hari. Suasananya mendukung untuk berlatih," kata Frenky Anjas Prasetyo, pembetot gitar dalam grup itu.

Beberapa pengunjung turut larut menyanyikan lagu yang dibawakan Frenky dkk. Mereka yang kebanyakan pasangan anak muda sesekali me-request lagu kepada grup musik amatiran itu.

Pukul 22.00-00.00. Anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok penari Capoeira Soerabaya beraksi di tengah taman. Gerakan seni bela diri ala Brazil yang mereka tunjukkan mengundang perhatian dan tepuk tangan pengunjung yang langsung merangsek mendekati arena aksi mereka.

Namun, di antara beragam fasilitas dan suasana itu, rupanya, tidak sedikit pengunjung yang lupa terhadap hal-hal yang tidak pantas dilakukan di taman tersebut. Misalnya, rambu-rambu dilarang menginjak rerumputan atau larangan orang dewasa menggunakan arena bermain anak-anak seakan tak berlaku. Begitu pula larangan membuang sampah sembarangan atau berjualan di arena taman seolah hanya imbauan bisu yang boleh diabaikan.

Akibatnya, tak heran, bila tidak sampai setahun, kondisi Taman Bungkul sudah "hancur". Sampah berserakan, berbagai fasilitas rusak, taman bunga yang indah jadi amburadul, dan kondisi tak mengenakkan lainnya. Padahal, tak henti-hentinya petugas Satpol PP, pasukan kuning, maupun polisi hilir mudik mengontrol kawasan itu dan mengingatkan agar para pengunjung mematuhi rambu-rambu di Taman Bungkul.

"Wah, sulit sekali mengatur pengunjung. Padahal, sudah berkali-kali kami ingatkan agar tertib. Lihat itu, tanamannya rusak diinjak-injak. Sampah makanannya juga dibuang di sembarang tempat. Kami capek mengingatkannya," keluh Yamin salah satu petugas Satpol PP yang beroperasi di Taman ini.


Fasilitas lain yang dirasakan penting juga tidak tampak lagi di Taman Bungkul. Yakni beberapa colokan listrik yang dapat dipakai untuk men-charge baterai laptop atau telepon genggam. "Sayang sekali, padahal taman ini salah satu tempat favorit untuk mencari inspirasi. Kalau listriknya ada, kan kita bisa lebih lama di sini," ujar Catur Irawan, pengunjung yang sering ke Taman Bungkul untuk mengerjakan tugas kantor.

Selain itu, beberapa bagian jalan akses dan arena permainan skate board juga rusak. Bahkan, ada yang berlubang cukup besar sehingga berbahaya bila digunakan bermain skate board. Atau jalan track di pintu masuk sebelah utara taman. Jalan untuk pengguna kursi roda juga berlubang. Begitu pula jalan paving di sepanjang areal bermain anak-anak terlihat bocel di sana-sini. (Andrian Saputri).

Romantisme Taman Prestasi

Taman Kota, Punya Anak Muda

TIGA anak kecil berlari-lari memutar komidi putar. Mereka bergantian mendorong wahana permainan itu agar terus berputar. Sesekali, seorang dari mereka melompat ke atas untuk ikut berputar sambil berjungkir balik dan tertawa-tawa riang. Sementara, orangtua mereka mengawasi dari kejauhan. Di bagian lain, tampak beberapa pasang muda-mudi yang masih mengenakan seragam SMU. Mereka asyik berpacaran sambil berangkulan dan berpegangan tangan. Bahkan, ada yang asyik berciuman seperti gaya film Hollywood. Tak peduli dengan kehadiran anak kecil di sekitarnya.

Pemandangan kontradiktif itu gampang dijumpai di beberapa taman kota di tengah Kota Surabaya. Salah satunya adalah Taman Prestasi dan Belajar yang berada di Jalan Ketabang Kali, Surabaya.

Taman yang dibangun pada tahun 1992 itu sesungguhnya difungsikan untuk taman bermain anak dan taman keluarga. Tetapi, secara perlahan, keberadaan anak-anak yang bermain di tempat itu semakin tergusur. Tergusur oleh muda-mudi yang sering tak peduli dengan adik-adik kecil di sekitarnya. Muda-mudi itu seenaknya berpacaran yang mestinya tak pantas dilakukan di tempat umum.

Kehadiran para remaja dan orang dewasa yang menggunakan tempat itu dengan semau gue membuat para orangtua enggan membawa anak-anaknya bermain ke sana. "Dulu saya sering ke sini, bawa anak-anak saya. Tetapi, sekarang malas. Masak anak kecil kok disuguhi tontonan mesum," kata Santi, salah seorang pengunjung di Taman Prestasi.

Bagi warga Sidoarjo itu, ciuman sudah dianggap mesum. Padahal, di areal taman itu, menurut beberapa pedagang sering digunakan untuk berpacaran hingga melebihi batas kesopanan.puput

Pesona Alam Taman Kyai Langgeng

Keeksotikan Taman Kyai Langgeng

Tat kala pagi yang sudah mulai menua mengantarkan kaki ini melangkah menapaki pemandangan indah di taman Bunga yang sekarang familiar dengan nama taman Kyai Langgeng.

Hanya berjarak 42 km dari Yogyakarta obyek wisata ini dapat dicapai, tepatnya ada di pinggir kotamadya Magelang atau berjarak 78 km dari ibukota Jawa Tengah yaitu Semarang.

Sangat disayangkan jika anda kegiatan berwisata ke Jawa Tengah atau Yogya dan sekitarnya tidak menyempatkan mengunjungi obyek wisata yang satu ini. Pada hari libur baik hari Minggu maupun hari raya ataupun liburan sekolah sangat ramai dikunjungi para wisatawan dalam rombongan besar.

Obyek wisata ini dapat dinikmati dengan berbagai cara misal anak-anak bisa bermain dengan berbagai permainan, ada juga kolam renang yang airnya selalu bersih dan segar atau hanya ingin bercengkerama dengan keluarga sambil menggelar tikar dan makan bersama saat makan atau bisa juga melihat aneka satwa dan flora yang ada di seluruh taman wisata ini.

Dengan berkunjung ke Kyai Langgeng anda bisa merasakan ketentraman kehidupan alam pedesaan di tengah-tengah kota, khususnya di dekat sungai besar yang ada di pinggir komplek wisata, dengan demikian para wisatasan diajak untuk meninggalkan kebisingan kehidupan kota sejenak dengan menikmati kehidupan alam yang indah, asri dan alami di taman wisata ini.

Nama Taman Kyai Langgeng diambil dari nama seorang tokoh pejuang kemerdekaan pada masa Pangeran Diponegoro 1825-1830, yang makamnya ada didalam area taman ini, beliau adalah seorang Ulama atau Kyai dan merupakan penasehat pangeran Diponegoro sewaktu berjuang melawan penjajah Belanda diwilayah tanah Jawa khususnya wilayah Magelang. Untuk mengenang jasa-jasa beliau namanya diabadikan menjadi nama sebuah taman (Taman Kyai Langgeng).

Taman Kyai Langgeng yang dibangun dan dikelola oleh Pemda Kodya Magelang, mulai resmi dibuka untuk umum pada tahun 1987 ini sudah mulai dikenal oleh pengunjung dari dalam maupun luar Jawa Tengah. Dengan cukup tersedianya koleksi satwa dan juga koleksi aneka ragam tanaman-tanaman langka juga aneka ragam kehidupan bunga tropis, juga tersedia kios-kios makanan, cendera mata dan juga hotel yang sangat menyatu dengan alam juga. Jadi tidaklah heran bagi banyak wisatawan yang berkunjung ke Yogya atau Jawa Tengah dan sekitarnya lebih menyukai untuk bermalam di kota Magelang dan pada siang hari berwisata ke semua tujuan wisata yang ada.


Suara alam yang masih menghibur perjalanan ketika menikmati keindahan wisata Kyai Langgeng ditambah suhu udara yang cukup dingin, cukup merepotkan saya. Sesekali saya melihat keindahan lembah-lembah kecil buatan manusia yang berubah fungsi menjadi jalan raya mata air dari aliran Kali Progo.

Kondisi jalan rerumputan dan bebatuan yang saya tapaki begitu indah karena kreasi tangan manusia. Di kanan kiri taman seluas 28 hektar itu tumbuh rerumputan dan pohon-pohon kecil yang cukup indah, menggoda gerak langkah saya untuk berhenti sementara menikmati keindahan alam.

Sesekali matahari mengintip dari balik dedaunan, memerhatikan saya yang sedang dipermainkan oleh alam Taman Kyai Langgeng. Semilir angin dari lembah-lembah sedikit membuat kondisi saya lebih segar. Saya pun menyaksikan elang, burung kalkun, burung dara, ayam kalimantan, merpati putih, dan beberapa anak monyet seakan menyambut saya di Taman Kyai Langgeng
Sesampainya di tempat paling bawah, saya terpaku oleh pesona alam Kali Progo yang begitu eksotik, lembah-lembah hijau dan pohon-pohon menjulang tinggi terasa menyejukkan mata. Deras air yang segar dan sejuk kawasan ini yang mungkin menjadi surga bagi kehidupan burung-burung. Tak henti-hentinya saya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan ini. Andrian saputri