Showing posts with label Puisi - Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi - Puisi. Show all posts

Monday, 10 May 2010

Ibu, Aku Rindu

Ibu pinjamkan pundakmu padaku
Agar aku bisa mengeluh, menceritakan semua beban beratku

Ibu, pinjamkan pundakmu padaku
Agar aku bisa menangis, meski aku anak pertama yang harus menuntunmu

Ibu, pinjamkan pundakmu padaku
Agar aku bisa merasakan, cintamu yang selalu kurindu

Ibu, pinjamkan pundakmu padaku
Agar aku bisa terlelap, dan terbangun dari cobaan berat

Ibu, pinjamkan pundakmu padaku
Agar aku bisa jujur, bahwa aku yang jauh ini amat sangat merindukanmu

Ah,, Ibu,, andai aku bisa bersandar di pundakmu
Aku pasti akan merasakan kesempurnaanmu
Aku pasti teteskan air mata, menghitung ribuan salahku padamu

Monday, 15 March 2010

RUN AWay......!!!!


"Kapan bisa benar-benar berlari ?" pertanyaan yang saya gak terlalu susah menjawabnya.

Pertama, kalau memang dalam kondisi terdesak dimana kita harus segera berlari
Kedua, kalau memang muncul keinginan mengejar sesuatu hingga harus berlari
Atau bahkan Kamu punya banyak jawaban lainnya yang tidak sama dengan saya. Boleh !
Dengan alasan-alasan yang bermunculan itu, so pasti kita akan berlari...

Tapi pernahkah Kamu tahu, saat semuanya baik-baik saja..tidak ada masalah..tidak ada alasan yang benar-benar memaksamu untuk berlari, tapi Kamu malah menggerakkan kaki & segera bersiap untuk berlari ?

Hmm.. I mean...
It's too common, kalau kita kepepet kita bisa atau mampu mengatasinya.
Nah, sekarang kita balik posisinya.

Disaat Kita menikmati "comfort zone" apakah kita mau dan sanggup untuk berlari ??
Apakah kita tidak takut, ternyata tujuan lari itu tidak lebih baik daripada comfort zone yang ada ??

Saya pribadi, sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian...terlena dengan kenyamanan itu..dan mencoba terus untuk berlari...karena saya tahu ada secercah tali "finish" yang saya nanti di ujung sana.

Saya tidak akan bisa menujunya hanya dengan "jalan kaki"
Ya..benar, saya butuh berlari.
Saya tahu tujuan saya itu, saya akan lompati pagar pembatas itu.
Tidak ada alasan bagi saya untuk terus menikmati sesuatu yang pasti-pasti saja.
Naluri dan adrenaline ini terlalu menggelora, hingga kian bergejolak..

Saya berlari, dan akan terus berlari...
Menuju sesuatu yang ada disana...bernamakan P.E.N.G.H.A.R.A.P.A.N

To Be Want You Want To Be........

"Kelak, aku ingin menjadi pribadi yang sangat mencintai isi hati dan diriku sendiri "

What ?? Jadi selama ini ? sampai kamu segede ini ?
Begitu pertanyaan saya, dan membuat saya ternganga ...mangap gak karuan (untung gak ngiler)
Tertegun, saya menatap mata kosongnya yang menerawang entah ke alam mana.
Seolah-olah saya tak sanggup untuk mengejarnya, bahkan hanya untuk memasuki alam pikirnya.

Iya..,,
teman saya yang curhat tentang esensi kebahagiaan dan membahagiakan.
Hal yang kadang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Jujur, Tidak pernah sekalipun.

Dalam benak saya, tentunya saya hanya menginginkan kebahagiaan.
Kebahagiaan yang saya dapatkan dari banyAk hal, banyak cara, banyak orang, dan dari..ini..itu dsb.
Semuanya tentu (mungkin) sama seperti saya. Tapi apa halnya, membahagiakan terkadang susah untuk dijalankan. Boro-boro menjalankan dan mendapatkan apresiasi, kalau yang ada malah celoteh aneh, gak jelas, dan berbuntut caci maki ? Saya belum se-wise itu, masih dalam tahap proses B.E.L.A.J.A.R

Kembali ke teman saya....,
Dimana teryata jalan yang dipilih adalah membahagiakan orang lain, sementara seluruh isi hati, jiwa dan tubuhnya menjadi sesuatu yang sangat tidak punya arti baginya sendiri.

Saya bilang dia dungu.Tapi dia menolak.
Dia mengatakan menemukan arti kebahagiaan sesungguhnya, karena berhasil membuat orang lain sangat sangat bahagia atas "tindakan" nya.

Well guys...i can't tell u the truth story. Not now (maybe) hehehe..
But, what I can share is...
Pernahkah kau merasakan "tidak menjadi dirimu sendiri". Hanya demi meng-agungkan apa pandangan orang..atau terlebih membuat mereka puas dan bahagia ?? Sementara hati Anda meronta ?

I told U........I can't do that... and how about you ? just ask your heart...

" Every day..It's as if I play a part
Now I see .. If I wear a mask
I can fool the world, But I cannot fool my heart

Why must we all conceal
What we think, how we feel?
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that I'm
Someone else for all time

TUMPAH

Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, akan kujawab aku tak tahu.
Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, akan kujawab remuk redam.
Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, akan kujawab dalam kebimbangan.
Kalau kamu tanya bagaimana perasaanku, akan kujawab dengan air mataku

Lintasan seolah bagai medan kosong yg beserakan batu ditepinya
Cuaca seolah bagai rentetan angin topan yg berkejaran disisi sambaran kilat
Untung saja aku masih mampu menahan waras ini
dan untung saja aku masih mampu menahan goncangan ini,

Kalau saja kau tak mampu sebut namaku,
Mungkin bukan aku, bahkan mungkin bukan bayanganku.
Kalau pitam ini tak mampu mengelak dalam hardik ku,
Mungkin itu aku, atau bisa jadi itu hanya bumbu manis bibirku.

Seberapa lama kah aku mampu bertahan ?
Selama Dia menujukkan rasa sayangnya padaku, dengan segala kuasaNya
Seberapa lama kah aku mampu tersenyum ?
Selama Engkau masih meyakini, bahwa luka ini akan selalu berakhir dengan
bahagia.......

Friday, 26 December 2008

Kehidupan Yang serba Bengkak

Kelelahan yang punya makna
Haus dan lapar yang punya jiwa
Kami mengakrabi kebesaran ciptaan-Mu, ya Tuhan
Betapa indah untuk dinikmati

Namun ada sesal yang menghimpit jiwa
Rasa kontras akan predikat yang kami sandang
Dengan mereka….
Tangan-tangan kotor perusak alam!

Perjalanan kami mengakrabi rimba sunyi
Melewati jalanan nurani
Meniti jembatan perasaan sepi
Menuju puncak gunung yang abadi

Tangan-tangan kotor itu racun
Haruskah kami menutup mata
Sekedar memurnikan yang kami lihat
Sekadar menikmati hijaunya dalam pegunungan

Tangan-tangan kotor itu
Harus kami lihat dan kami tentang
Meski dengan kebesaran jiwa yang bengkak
Meski dengan kacamata yang tak pernah bertepi.

Sidoarjo, 2008

Muara Akhirku

gelap langit malam
berikan keheningan dan diam
dalam diam
kutengok bintang khusuk sembahyang
dalam keheningan
kupacu hasratku sujud pada-Mu
nyalakan lampu dalam jiwaku
agar aku tahu
segala keangkuhan adalah kebinasaan cinta
dan segala cinta
hanya bermuara pada-Mu

Surabaya, 2008

Sajak Cinta Untuk Dia

Ketika rakyat berkubang dalam genangan air mata
kita berjumpa

Tatkala petani terusir dari tanah leluhurnya
kita bersua

Saat buruh acungkan kepalan tangan menuntut haknya
kita saling jatuh cinta
karena kita di antara penderitaan mereka
darah kita mengalir di nadinya.

Tapi kini kau begitu jauh
jauh tak terengkuh
oleh angan dan harapan
setelah aku terbuang.

Lewat kangenku pada jalanan
lewat rinduku pada pekik perlawanan
kukirim salam untukmu
meski kau tinggal bayang-bayang semu
ataukah aku yang selalu ragu
pada landasan yang selama ini jadi pijakan
cita-cita masyarakat tanpa penindasan.

Rinduku padamu,
laksana bayi rindukan tetek ibunya
ketika lapar dan dahaga.

Cintaku padamu,
kini terbawa angin senja
kulambaikan tangan perpisahan
sambil mendekap dada yang terluka.

Surabaya,2006