Showing posts with label cerpen2 amburadul..... Show all posts
Showing posts with label cerpen2 amburadul..... Show all posts

Friday, 26 December 2008

Suatu petang di Stasiun Kota

Alhamdulillah, sampai juga di Stasiun kota, Jakarta. Berarti sudah tiga pere empat perjalanan yang kutempuh. kereta yang kutumpangi berhenti di jalur dua pemberhentian bis. Uff…hh!! jakarta yang panas, sepanas orang-orang yang mengerubutiku.
“Perlu tenaga, Mbak?” seorang penyedia jasa angkutan barang menawarkan bantuan. Aku tolak dengan sopan sambil tersenyum. Aku tak ingin penolakanku menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan darinya. Ah, Jakarta tak pernah berubah. Satasiun kota tak pernah sepi dari manusia. Seperti bayangan ku selama ini, saat aku melihatnya di layar kaca.

Kupercepat langkah kakiku untuk menghindari buruan para calo yang mencari penumpang. Sekaligus memperkecil resiko kecopetan. Kabarnya Stasiun kereta api terakhir di Jakarta timur ini menjadi sarang para pencopet. Ya, maklum. Inilah Jakarta. Penduduknya padat, lapangan pekerjaan sempit. Sebagian orang akan melakukan apapun untuk bisa bertahan hidup.

Setelah antri sebentar akhirnya tiba juga giliranku untuk membayar wartel.handphone ku batreinya tidak bias kerja sama. Mungkin dia merasa lelah, karena selama 20 jam lebih aku mengajaknya senda gurau tanpa henti. Kuangsurkan recehan perak kepada penjaga wartel itu. Setelah menerima fakturnya, aku bergegas memburu diantara arus manusia menuju ruang tunggu. Suasana ruang tunggu tak kalah bising. Langkah tergesa kaki manusia dengan membawa tas-tas besar saling berebut untuk mendahului. Apalagi ditambah suara manusia mencari uang, menjajahkan daganganya, yang saling sahut-menyahut.
Jam di tengah ruang tunggu menunjuk angka 17.15 Berarti kemungkinan sampai di Salemba jam 18.15. Masih bisa untuk menjamak sholat. Aku memang tidak terbiasa sholat di tempat umum, apalagi stasiun seperti ini. Selain musholanya jauh aku juga tidak berani sendirian. Entahlah, mungkin karena dari kecil aku tidak pernah pergi sendirian. Maklum, walaupun aku anak sulung, aku adalah anak manja yang beranjak dewasa.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah salam terdengar nyaring disela-sela tiupan pluit masinis kereta yang terus bersahutan. Tak kuhiraukan suara itu, karena aku yakin tidak ditujukan untukku. Aku masih terus berjalan menuju tempat keluar stasiun. Aku harus cepat agar bisa tidak bertemu dengan calo-calo itu. Bukannya karena aku sombung, aku sangat memahami kondisi mereka. Alas an mereka melakukan hal seperti ini,. Berdesak-desakkan mencari perhatian pengujung stasiun agar mendapatkan upah. Namun, aku merasa takut karena mereka seperti orang kalap.
“Assalamu’alaikum.” Siapa, sih. Aku mulai penasaran. Aku semakin kaget ketika sebuah tangan menarik lenganku.
“Assalamu’alaikum” Untuk kesekian kalinya ia mengucap salam. Sangat sopan.
“Wa’alaikumsalam” Agak gugup aku menjawab salamnya.
“Ukh, dari tadi aye panggil elu sejak membayar wartel. Kok nggak menjawab.” Aku hanya tersenyum. Tersenyum lantaran bertanya-tanya. Siapa makluk tuhan berparas ganteng ini.
“Maaf, mas. Soalnya ………. Saya kira Mas bukan memanggil saya.” Aku masih belum mengerti siapa laki-laki di depanku ini. Kuteliti dengan seksama, jangan-jangan aku pernah bertemu tapi lupa. Topi hijau lumut, bermotif polos namun elegan, lengkap dengan kaos putih dan celana jins nya. Anehnya ia tidak membawa apa-apa. Memoriku buntu. Aku memang belum pernah melihat dia sebelumnya.
“Putri, Ukh bisa duduk sebentar.” Pintanya menyadarkan lamunanku. Kami pun mencari kursi yang agak kosong. Meskipun sulit akhirnya dapat juga. Kalau semula aku hanya pasif, kini aku yang duluan bertanya.
“Maaf, Mas ini siapa, ya. Sepertinya baru sekarang kita bertemu.” Kupanggil dia Mas karena dari wajahnya aku yakin ia lebih tua dariku.
Bibirnya tersenyum sebelum menjawab. “Aye Irfan kalu Lu putri kan?”
“iya.” Jawabku singkat.
“Begini, ehm…” Ia tampak kebingungan. Aku masih diam menunggu sambil sesekali memperhatikan jam dinding di tengah ruang tunggu. Apa sih maunya.
“Aduh, aye jadi nggak enak.” Kebingungannya semakin kentara. “Sebenarnya aye disuruh temen lu, emm temen aye juga sih. Sungkono. Buat jemput elu..” Ucapnya dengan nada tertatih.
“ooooo…” Aku mencoba memahaminya.

“yuk, pulang. Sungkono udeh nugguin elu dari tadi,”katanya seraya menggandeng tangan kananku. aku kaget dan tersipu malu. Sontak saat ia menggandengku, aku melepasnya. Dia pun dengan santai menjawabnya. “aye takut lu kenapa-kenapa?!,”bantahnya.
Orang di sekitar lagi memperhatikan kami. Namun, semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing. “ternyata temennya pemalu juga ya. Padahal sungkono cerita kalau elu rame banget, mungkin belum kenal kali yach “Dengan tawa hambar ia mengakhiri ceritanya.
Aku mulai mengerti kalau sebenarnya laki-laki berwajah dingin ini, ternyata ramai juga. Tapi sampai ceritanya usai aku belum berinisiatif untuk menawarkan pertanyaan, atau sekedar tersenyum manis untuknya. Kulihat lagi jam dinding. Aku masih bingung antara percaya atau tidak dengan hal ini. Logikaku mengatakan agar waspada. Ini adalah Jakarta. Semua modus penipuan bisa saja terjadi. Ah, waktuku semakin pendek.
Kuinggat-ingat uang yang aku bawa saat ini. Aku hanya membawa uang pas-pasan. Meskipun masih ada di ATM, tapi semua telah kuanggarkan untuk membeli Laptop baru.
Untuk kesekian kalinya kutatap wajah putihnya yang ada di depanku. Kucoba mencari kebenaran di sana. Ya Allah kalau dia benar-benar orang baik pasti aku akan sangat berdosa. Tapi kalau ternyata dia menipuku? Tak tahulah. Aku masih bingung. Apalagi jam di dinding terus bergerak. Sekilas aku teringat temanku yang pernah kehabisan ongkos saat menempuh perjalanan Surabaya – Jakarta. Uangnya tinggal 200 perak. Untunglah ada orang yang bersedia menolong.
“Putri. Kalau boleh aye minta diongkosi untuk pulang salemba ya, aye lupa kagak bawa duit.” Aku tidak kaget dengan ucapannya karena dari awal aku sudah menduga. “aku hanya mengagguk tak tahu apa yang mesti aku tuturkan padanya,”.Ya Allah, jawaban apa yang harus kuberikan? Antara rasa takut mendzolimi orang yang baik dan khawatir tertipu bercampur menjadi satu. Terus terang, yang membuatku heran adalah sikapnya yang mudah meminta kepada orang yang belum kenal. Terdesak apapun, seorang akhwat tidak akan mudah meminta. Maksimal ia akan meminjam, bukan meminta. Tapi bisa jadi dia benar-benar terpaksa melakukannya. Setelah agak lama, kuberanikan bertanya tentang tujuannya.
“Rumah mas Irfan dimana?” Bagaimanapun aku harus segera mengambil keputusan.
“kebayoran.”
“jakartamana?”. Mulai basi setiap kata yang keluar dari bibirnya.ya pastilah ia di Jakarta.
“Aye di jalan kebayoran nomor 120.”

Kami menyusuri jalanan ibu kota dengan taksi bermerk star taksi.
Kugeser tasku agar lebih dekat. petang ini Jakarta tampak begitu lengang, sehingga jalanan pun tampak sepi. Ughhhfff…akhirnya aku sampai juga di salemba. Aku masih harus menunggu temanku yang masih ke warung. Irfa duduk di bangku yang sederet denganku. Aku hanya melihatnya sekilas, selanjutnya aku teruskan melihat Hp ku yang sudah tak bias hidup lagi.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara menghentikan aktifitasku. Reflek mataku menoleh ke sumber suara tadi. Deg!! Jantung serasa berhenti berdetak. Kutatap lekat wajah di depanku. Dia adalah laki-laki yang pernah mengisi diari kehidupanku. Ternyata aku bertemu lagi dengannya di sini. Sepertinya ibu kota tak seluas pikiranku. Tapi kenapa dia seperti tidak mengenaliku? Apa karena terlalu banyak perubahan? Atau karena rambutku yang agak berubah akibat bertambah panjang?
“Wa..alaikum salam.” Kuatur nafasku agar tetap tenang. Otakku segera berpikir keras untuk menyusun strategi dalam menghadapinya. “eh kamu?? Duduk.” Ajakku ramah. Setelah suasana agak cair, mulailah orang yang bernama Adit itu bercerita. Persis yang pernah dia ceritakan setahun lalu. Benar-benar tidak kreatif, pikirku.
“Dit.” Sambungku setelah ceritanya selesai. “kamu lupa dengan saya?” Kutatap wajahnya tajam. “setahun yang lalu kita pernah ada memori kan?” Kulihat ekspresi wajahnya yang langsung berubah bias. “Dan kamu juga mengarang cerita yang sama. Maskudnya apa?!” Aku semakin mendesaknya karena merasa berada di posisi yang menang. Ia hanya diam membisu. “Dengarya dit. Gara-gara perbuatan kamu, hubungan ku dengan nana ga baik. Kamu ga Kasihan.

Aku hampir melanjutkan kalimatku ketika terdengar suara yang cukup jelas di telingaku.
“Putri!! ..” Nafasku berhenti seketika saat laki-laki yang di sebelahku telah mendekat dengan sebuah tisu lembut. Aku mendelik karena tidak menyangka kalau irfan memberikan perhatian saat itu. Aku tidak mengenalnya. Tapi dia langsung respect dneganku. Apa gara-gara dia hutang uang di taksi itu.
Dia memelukku erat, dan mengatakan kepada adit, lebih tepatnya Aditya, mantan pacarku yang telah banyak membohongiku. “oo..jadi kamu kenal dia ya say???,”Tanya nya padaku. Sontak aku semakin bingung dengan situasi yang ada. “dit, dia bokin aye. Putrid namanya. Manis kan,”ungkapnya lagi. Anehnya kau tak berkutik saat ia memegang tanganku. Mungkin dia menjadi penyelamat agar aku bisa tersenyum manis dengan Adit , walaupun dengan beban dada yang sesak akibat masa lalu dengannya.
Setidaknya aku tak marah dan merasa ada sedikit keberuntungan saat iefan memelukku. Ya, aku merasa menjadi pemenang dalam pertarungan rasa sakit hati dengan Aditya.

Sunday, 24 August 2008

Love is Funtastic


“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”

Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku. Hhhh … Tidak ada ujungnya kalau aku bercerita tentang kekasihku, selalu panjang dan tak berujung.

Aku tidak begitu berharap ingin memilikinya, karena waktu itu yang ada dalam benakku hanya lah seorang teman paling pas teman special. Dan aku mencoba menabak-nebak, kalau akan ada banyak wanita yang larik-larik seolah menjadi bayangan baginya. Tapi, entah kekuatan dari mana, aku bertekat apapun yang terjadi aku ingin bersamanya. Kerikil tajam terhampar seolah menjadi jembatan paling mengerikan dalam hidupku. Hampir 4 hari mengais cinta dalam kehampaan sampai akhirnya aku mau merangkulnya dalam kata, kata terucap mejadi cinta dan cinta menjadi kasih. lama menjalin kasih, penuh warna, kata, cinta, hingga aku merasa malam selalu tenang dan bulan sabit terlalu silau melebihi purnama. Bersamanya, berlayar dalam tangis, tawa, meniti waktu dalam naungan hati, disulami nyanyian angin bersama menganyam setia.

Bedon adalah panggilan sayangku untuknya. Aku tak tahu jika udara dalam kehidupan ini tak ada. Bahkan mati. Karena dengan udara cinta kami terjalin, cinta kami tumbuh hingga kini. Tapi, walalupun kita jauh kau harus mengerti Bedonku, kau harus tau, bahwa Tak akan pernah ada yang meragukan keajaiban cinta. Cinta mampu mengubah segalanya dengan tak terduga. Mengubah kelelahan menjadi semangat lagi. Seorang penakut menjadi seorang pemberani, pemalu menjadi penuh percaya diri, dan penyendiri menjadi super-supel dalam bergaul. Ia mengkonversi duka menjadi bahagia. Termasuk menginspirasikan berjuta-juta tulisan seperti ini. Tetapi… hanyalah ketulusan yang dapat mengubah cinta menjadi keajaiban cinta.

Sebenarnya aku malu menulis kata-kata ini. Aku ragu belum benar-benar tulus dalam mencintainya. Terlalu gombal menyimpulkan ketulusan cintaku adalah keajaiban cinta. Tetapi akankah ketulusan cinta itu diragukan? Padahal aku tak meragukan keajaiban cinta. Aku hanya bisa berusaha untuk lebih tulus…Ketulusan ini diawali oleh awal yang tak pernah terlupa.

to my special rich....
JS'08..

Monday, 9 June 2008

Si Ria yang Bodoh



Dalam hidup ini tidak ada yang lebih indah dari kebahagiaan yang bernama cinta. Cinta tidak akan pernah lapuk dan usang dimakan waktu. Malam ini, aku teringat padanya, pujangga yang pernah sangat aku sayangi.
Pertemuan itu bermula saat kami telah ditakdirkan untuk sekolah di TK yang sama dan berlanjut sampai SMP. Selama perjalannya itu, kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama karena jarak rumahku dengannya tidaklah jauh. Ibarat dua telapak tangan, kami tidak terpisahkan.

Kami saling mengerti dan membantu setiap permasalahan yang ada. Begitu pula dengan pertengkaran, hubungan cinta monyet kami tidak selalu lancar tapi pernah ada kesalahpahaman. Namun, hal itu cepat terselesaikan. Mungkin karena kami berdua memang cocok, aku adalah anak sulung dikeluargaku, dimana aku bisa memahaminya sebagai anak bontot dikeluarganya. Mungkin perbedaan itu membuat kami bisa cocok, dan entah kenapa batinku saat itu berkata, pertengkaran yang terjadi adalah bumbu hubungan masa kecil kami yang menandakan kebersamaan kami akan abadi selamanya.

Perjalanan hidup seseorang tidak ada satupun yang bisa menentukan. Sepintar-pintarnya manusia meramalkan masa depan, tidak ada yang lebih pintar dari Pemilik alam semesta ini karena Dialah yang Maha Menetukan. memasuki kelas 3 SMP, kami terpisahkan. ayahku ditugskan oleh perusahaannya di Surabaya. aku pun mau tak mau harus ikut pindah bersekolah di kota pahlawan ini. selama itu kami tidak pernah berkumunikasi. seperti hilang ditelan bumi. memang akus engaja tidak pamit dengannya. bukannya aku tak menghargainya, tapi bagiku jika ia tau bahwa aku segera pindah rumah dan sekolah, maka pertemuan terakhir kami akan terasa menyedihkan. walaupun saat ini aku menyesal atas perilaku ku itu.Memasuki dunia kuliah, kami kami pun tambah tidak tau kabar satu smaa lain, karena mengambil jurusan jurnalistik yang banyak menyita waktu. aktivitas padatku di kampus, sama sekali menyita waktu. hingga tak sedikitpun aku ingin tau kabar dia.

Aang, itulah panggilan sayang kami untuknya. Aang tidak berubah, dari dulu hingga saat kuliahpun dia tetap nomor satu. Kepintarannya, pribadinya, tidak ada yang bisa mengalahkan. Sempat terbersit dihatiku yang merasa iri padanya, kenapa aku tidak bisa memiliki kepribadian seperti itu? Tapi, rasa itu aku buang jauh karena tidak ada gunanya iri kepada orang yang pernah mengisi lembar hidupku sewaktu masih kecil, yang penting aku bisa belajar darinya. kepribadian itu tidak aku dapatkan langsung dari mata kepala ini. melainkan teman jauhku yang memberitahu.

hingga suatu saat aku menerima kabar buruk dari teman jauhku. kabar buruk yang tak kusangka bisa separah ini. aku mendengar bahwa Aang sakit. Ada kelainan di dalam tubuhnya. Dan dokter mengatakan kalau Aang menderita penyakit Kanker hati. Saat itu aku dan sahabat yang lain sangat shock, kenapa kami bisa kecolongan? Kenapa Aang tidak cerita kalau dia merasa ada yang tidak beres di dalam tubuhnya? Kenapa kami baru tahu ketika dia dirawat di Rumah sakit? Ternyata, memang tidak ada yang tahu termasuk keluarganya. Aang menyembunyikan penyakitnya karena dia tidak ingin ada yang direpotkan. Aang sangat tegar, dengan kondisinya yang semakin lama semakin menurun, dia masih bisa tersenyum ketika teman-teman kuliahnya datang ke Rumah sakit. Ketegaran hatinya mengalahkan keadaan fisik yang semakin lama semakin melemah. Tubuh yang kuat itu sudah tidak ada lagi. Untuk mengangkat tanganpun dia tidak bisa dan untuk dudukpun dia harus dibantu dan dipegangi. Hati siapa yang tidak terenyuh melihat keadaan itu. Mata yang teduh itu memancarkan kekuatan, ketabahan, dan kepasrahan. Ya, Aang dan kekuarganya sudah pasrah ketika dokter mengangkat tangan dalam menanganinya dan berbagai obat alternatifpun sudah dicoba tapi hasilnya bersifat sementara.

mungkin aku mengulang lagi keegoisanku itu. setelah menerima kabar itu, aku pun tak langsung melihat keadaan Aang. hingga Tepat di hari minggu malam tanggal 14 Maret 2004 aku menerima telfon dan ibu Aang. kaget juga, setelah beberapa tahun kami tidak bertemu, tiba-tiba mereka menghubungiku. dari mana ia dapat nomor Hp ku. aku diminta datang ke rumah Aang, ibunya bilang badannya panas.
dasar bodoh! aku terlalu lamban. hingga saatnya aku bertemu dengannya dalam kondisinya yang serba angkuh. ia diam, terus berdiam diri. tak mau menyapa. mungkin dia masih sakit hati atas perlakuanku karena tidak memberi tahu kepergianku. aku coba memandanginya, tapi tak sepatah katapun ia ucap. semakin aku meminta maaf, semakin dia tak mau menggubrisku. aku pun hanya bisa pasrah, pasrah menerima perlakuannya. aku terbujur lemas, letih, melihat senyumnya yang tak lagi mempesona. ia sudah tak mau senyum lagi, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. aku tak bisa melakukan apa-apa.

seluruh orang yang berada di ruangan itu, terisak0isak oleh tangisan. kondisi Aang sangat disayangkan, dia menghilang, aku melihat kehampaan. Dia tidak mengenal orang-orang yang ada disampingnya bahkan berllau begitu saja. Mulut, kaki, jari, tangan dan kakinya kaku. Di saat seperti itu, aku membisikkan kalimat terakhir ditelinganya. kalimat permohonan maafku untuknya. Memang Maha Kuasa Allah, Aang tidak bisa memberikan desahan nafasnya sedikitpun untuk memberikan maaf kepadaku . Subhanallah. Ibunya berkata kepadaku, Tepat jam 3 pagi Aang menghembuskan nafasnya. Dia pergi untuk selama-lamanya. Aku yang melihat peristiwa itu hanya bisa berdiri kaku dan tiba-tiba ada bisikan dalam hatiku yang mengatakan, “ Ria orang yang pernah kamu sayangi sudah tidak ada lagi, dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Barulah aku sadar, kalau itu bukan mimpi. Air mataku berjatuhan, aku shock dan hanya bisa menangis dalam dekapan Ibunya Aang, dan iapun menangis. Aang memang pergi dan tak akan kembali lagi.

Kepergian Aang menggoreskan luka yang sangat dalam. kenangan-kennagn manis bersamanya, selalu aku ingat, aku sangat kehilangan dia. 14 tahun perjalanan pertemanan hingga berujung cinta monyet kami adalah waktu yang sangat panjang. Aku sempat protes padaNya, dimana kebersamaan abadi yang pernah Allah bisikkan padaku sewaktu aku SD dulu? Kenapa Dia mengambil orang yang aku sayangi? Dimanakah keadilan itu? Namun, ada yang mengatakan padaku, mungkin ini keputusan yang baik bagi Aang. Dari pada dia menjalani hidup yang tidak jelas? Daripada dia merasakan sakit setiap hari? Mungkin dengan kepergiannya dia tidak akan menderita sakit lagi, dan aku menyadari hal itu memang benar. Bagiku tidak mudah melupakan kenangan yang pernah kami jalani bersama. Kebahagiaan, kesedihan, dan pertengkaran adalah momen-momen yang sangat berharga bagiku.

Banyak hal yang aku dapat dari Aang. Semuanya akan tetap bersemi indah di ingatanku dan kehadirannya akan tetap menyinari taman hatiku. Perbedaan ruang dan waktu tidak akan pernah memutuskan kebersamaan yang telah terjalin. Aku yakin, Aang bahagia di sana. Senyumannya menghiasi mimpi-mimpiku. Aang, mungkin ini adalah yang terbaik bagimu. Dan aku berdo’a semoga kamu bahagia di sana dan semoga Allah mempertemukan kita di JannahNya, Amiiin. Temans, apakah ini yang dinamakan kebersamaan sejati? aku tidak tahu. Namun yang ku tahu saat ini adalah kebersamaan itu tidak mengenal ruang dan waktu, dimanapun kita berada, kebersamaan bisa terjalin.itulah yang kau lakukan padaku. terimakasih Aang yang pernah menjadi sandaran sementaraku.

Saturday, 3 May 2008

Ayah, Ibu,.. Maafkan Dita...

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak
tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk
bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai
tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari
marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru
ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak
jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan
kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin
menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka
ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya,
gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut
imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu
rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil
yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama
lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus
menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak
dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah
padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi
diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak
tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?"
hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari
kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu
ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil
bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil
sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya
berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa
menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak
tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas
dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs
berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan
kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah
diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu,
membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil
luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si
pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah
tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan
obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang
menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi
pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah
menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari
bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya
ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk
kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya
Ditadalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar
pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa
suhubadan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul
5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah
lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit
karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap
dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata
dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong
karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah
bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus
dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu
bagaikanterkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia
berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian
ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak
mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..
sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa
sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah
pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak
akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...
Bagaimana Dita mau bermain nanti?.... Dita janji tdk akan mencoret2
mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu
mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang
sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.
Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan
dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski
sudah minta maaf...

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran
bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya
dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si
Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar
bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Sangat patut jadi renungan.

untuk yang satu ini Silahkan di baca dan diperbolehkan untuk disebarluaskan......

Thursday, 10 April 2008

Segenggam Ketenangan

UHF!! Akhirnya sampai juga aku di kos. Kondisi lalu lintas yang entah kenapa siang tadi terlihat ruwet membuatku demikian penat. Tumben, Surabaya tidak pernah semacet itu. Memang, Surabaya tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Tetapi jalur lalu lintas ke arah kosku tidak pernah sepadat tadi. Ruwet, tidak karuan.pokoknya berantakan banget.
Sepi menyapaku. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh. Hampir isya'. sunyi sekali suasana kost, Entah semua ke mana. Perlahan kubuka pintu kamar. Sebuah amplop tergeletak begitu saja di bawah pintu. Sebuah tanda tanya merasuk ke dalam pikiranku. Kubolak-balik tidak ada nama dan alamat pengirim hanya alamat tujuan menunjukkan kalau surat itu benar-benar untukku.kaget juga, tapi tak apalah, yang ada dipikiranku, mungkin dari keluarga di Yogyakarta. tapi tidak mungkin, karena baru seminggu yang lalu, waktu dan keadaan memaksa ku pulang kampung. si bungsu merayakan ulang tahunnya.
Tambah seringnya kupandangi amplop itu, perasaan ini semakin kacau. yach, was-was kalau burung-burung yang suka menggosip itu kumat lagi penyakitnya. Setengah tergesa, pintu kamar kusorong.
kamar kost yang sempit, terasa semakin sempit kala itu, karena bau apek. itu semua karena seharian aku lupa menyemprotnya dengan pewangi. tapi aku tidak akan menyalahkan otakku yang pelupa. melainkan karena uang gaji belum turun. rasanya tambah dada ini tambah sesak, kalau ingat-ingat belum gajian. ujung-ujungnya semua masalah, sengaja aku kaitkan dengan ulah perusahaanku.
sengaja aku taruh dulu amplop itu. aku letakkan di atas radio mungil, yang baru saja dua minggu lalu aku beli. Lelah dan capek yang mendampingiku sejak perjalanan pulang tadi, belum juga puas untuk pergi dari badanku. aku selonjorkan kaki dan aku rebahkan tubuh ini untuk sesaat. mencoba memejamkan mata, sambil sesekali mengingat kejadian di kantor. tiba-tiba saja aku langsung bangun dan tersadar kalau aku sedang emosi. tersadar pula kalau beruang maduku sudah terlempar jauh dibawah kolong tempat tidur. kejadian panas di kantor tadi siang membuat rasa emosi ini kambuh lagi. tapi, saat itu aku mencoba untuk tidak mengingatnya kembali. karena hanya membuat sakit hati.
Entah kenapa, pandangan langsung tertuju pada tamu baru yang hampir terlupakan. aku ambil amplop itu dan perlahan ku robek lem yang merekat pada sisi-sisinya. Tulisan tangan dalam surat itu membuat jantungku nyaris berhenti berdetak. Gilang! Pelan kueja nama itu dalam hati. Tahu dari mana ia alamat kosku. Gilang. Sekali lagi kueja nama itu dengan nada perlahan.
Dear : Eta
Apa kabar, Ta? Kau tentu kaget menerima surat ini. Berapa tahun ya kita tidak bertemu? Tentu kamu berubah sekarang ya. Kudengar kamu jadi seorang wartawan. Wah, wah, singa poGilangum sekolah kita ini tentu semakin cerdas. Ha ha ha….
Ah. Sejenak aku berhenti membaca surat itu. Kurasa Gilang ada di depanku sekarang. Ingatanku terlayang masa menjaGilang siswa SMA dulu. Kami satu tim dalam pembuatan naskah karya ilmiah di sekolah. Tetapi entah kenapa jika soal presentasi selalu saja diserahkan kepadaku. Tentu saja setelah kami berempat, aku, Gilang, Sari, dan FuaGilang mendiskusikan konsepnya. Ah kalau kuingat betapa indah kebersamaan itu. Ke sekolah bersama-sama, ke toko buku bersama, ke perpustakaan bersama, hingga ke kantin pun bersama. Kalau boleh aku katakan mungkin kebersamaan itu yang paling indah Gilang seluruh sekolah kami. Seluruh Sekolah , menganggap kami pasangan paling ideal. Sari dengan Gilang, sementara Fuadi dipasangkan dengan aku. Ah, ada-ada saja. Aku tersenyum sekilas. Segera kulanjutkan membaca surat Gilang.
Bagaimana pekerjaanmu sekarang, Rin? Tentu kamu sangat menikmatinya ya. Meski dunia jurnalistik itu banyak cowoknya, aku percaya kamu bisa survive. Sama sekali aku tidak akan meragukan kemampuanmu.
Aku sekarang memegang jabatan sebagai Kepala divisi SDM Gilang Airlines Ticket Jakarta. Dulu aku sempat jadi sales. Lalu dipercaya jadi Pengendali Promosi Pesawat. Sejak tahun lalu aku dipercaya mengendalikan SDM. Ya semoga saja aku bisa menjalankan amanah itu.
Ta, maafkan kalau aku mengganggumu. Aku bingung kepada siapa mesti bercerita. Tiba-tiba saja aku teringat padamu. Aku langsung saja menulis surat ini padamu. Ah, kamu kan sahabat terbaik yang pernah kumiliki, Ta. Kamu pasti bingung darimana aku dapat alamatmu. Iseng-iseng aku main ke sekolah kita meski ada niat untuk mencari Bu Inti, guru terbaik kita, untuk menanyakan alamatmu. Aku yakin kamu dan beliau tidak pernah putus hubungan. Syukurlah kami bertemu.
Sebenarnya Ta, aku ingin menyuratimu sejak enam bulan lalu. Tetapi, karena pekerjaanku menumpuk aku baru bisa menuliskannnya sekarang, meski selama itu pula aku mesti menahan bebanku. Suer, Ta, aku bingung sekali. Rasanya aku nggak sanggup lagi….
Aku berhenti sejenak. Ada apa denganmu, Gilang? Aku merasa Gilang adalah orang paling sabar, hebat, juga paling arif di antara kami. Kalau sampai kemudian kalimat semacam itu meluncur dari bibirnya tentu ada yang salah….. Ah, semoga saja perkiraanku salah.
Ta, sebenarnya aku sudah menikah sejak tiga tahun lalu. Ya, cuma berselang dua tahun setelah kita lulus sekolah SMA. Ups, jangan marah dulu. Aku sendiri tidak pernah mengerti kenapa pernikahan itu bisa terjadi. Ceritanya aku mengikuti tes kepegawaian di sebuah instansi pemerintah. Dan ia (yang kini menjadi istriku) menjadi salah satu pengujinya. Pada dasarnya ia adalah perempuan menyenangkan sekaligus hebat. Saat itu, tiba-tiba saja aku ingat padamu.
Selanjutnya, kami sering bertemu. Berdiskusi tentang banyak hal. Hingga suatu ketika ia memintaku untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya. Sebagai teman, aku sama sekali tidak berkeberatan. Kebetulan sekali rumahnya ada di luar kota, dengan begitu aku harus menginap di rumahnya. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja di rumahnya ada banyak orang dan aku diminta untuk menikahinya. Alasan yang dikemukakan sederhana saja: karena aku telah berani menginap di rumahnya. Ah, betapa kaget aku saat itu. Tetapi, aku jadi ingat hasil penelitian kita dulu. Penelitian kita tentang kondisi sosial masyarakat yang tidak dapat menerima seorang laki-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan apalagi jika laki-laki itu sampai menginap. Makanya aku berusaha menunjukkan rasa tanggung jawabku. Tanpa persiapan, aku pun menikahinya. Itulah sebabnya aku tidak mengundang siapa pun. Kamu, Fuadi, dan Sari. Meski aku tahu alamat Fuadi dan Sari karena kami masih sering berhubungan. Juga kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita.
Napasku tertahan sebentar. Sejurus kemudian kuhempaskan dengan sekuat-kuatnya. Kalau saja kamu tahu, Gilang, aku memang sengaja menghilangkan jejak. Aku ingin sendiri. Aku jenuh dengan sebuah hubungan yang melibatkan perasaan. Aku ingin semua hubungan yang ada itu biasa-biasa saja. Bahkan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Aku sudah jenuh dengan hubungan yang selalu saja bisa kutebak cerita akhirnya. Kebanyakan sad ending. Makanya aku tinggalkan kota tempat kita menimba ilmu itu. Sebab lainnya aku ingin mencoba diriku sendiri sejauh mana bisa survive di kota yang sama sekali asing buatku. Aku mengedikkan bahu sejurus kemudian kulanjutkan membaca surat.
Ta, selama hampir setengah tahun aku tidak pernah mengetahui seperti apa itu malam pertama. Sebab, istriku memiliki penyakit yang agak kronis. Asma, dan kanker payudara. Jadilah, aku mengurusinya selama itu. Suer, TA, aku tidak ingin menuntut apa-apa. Aku ikhlas melakukannya.
Ta, beberapa bulan ini, aku seperti orang kebingungan. Sehebat-hebatnya aku, tetap saja aku ini manusia biasa, Ta. Aku butuh keluarga yang hangat, yang menyenangkan. Tetapi, aku berusaha menerima apa yang saat ini memang telah ada di genggamanku. Berusaha bersikap layaknya suami kebanyakan yang selalu ingin menyenangkan istrinya. Tetapi, ia seperti tidak peduli. Cuek saja. Bahkan kini ia bekerja di dua perusahaan sekaligus. Jadilah kemudian ia sering pulang malam.
Ta, bagiku itu tidak masalah. Sejauh ia bisa mengukur kemampuannya. Seringkali ia lalu tiba-tiba jatuh sakit. Kalau sudah begitu, aku tidak mungkin meninggalkannya. Tetapi ia tidak pernah menganggapku. Sedih rasanya.
Untuk membunuh kesedihanku, hobi organisasiku di sekolah dulu kambuh lagi. Aku nggak mau lari ke tempat yang salah. Aku nggak ingin berkubang dalam kesedihan yang bisa membutakan mata sekaligus hatiku. Kini, aku memegang kendali di beberapa organisasi profesi. Segera saja aku enjoy dengan dunia yang memang selama ini kurindukan.
Ta, beberapa hari lalu kami bertengkar. Ia membuka ponselku dan memeriksanya. Sama juga dompetku. Ah, seolah-olah ia tidak percaya padaku. Mungkin karena aku masih capek, sementara mataku baru saja terpejam, dengan kasar, aku bilang apa dia tidak percaya padaku. Apa yang ingin dicarinya. Setelah itu kutinggalkan begitu saja. Sekilas, kulihat ia berkemas. Ah. Ego lelakiku muncul. Kubiarkan saja apa yang ingin dilakukannya. Terserah dia mau apa.
Ta, kamu boleh memakiku. Kamu boleh memarahiku. Jujur aku bingung sekarang. Kalau saja aku boleh memutar waktu, aku ingin kita bersama-sama lagi. Kita berempat Ta. Kita bisa saling bercerita.
Ah, Ta. Aku merasa sedikit lega sekarang. Aku tahu dan ingat betul ucapanmu kalau kita mesti siap menanggung konsekuensi (bukan resiko) tindakan kita. Sejujurnya, aku tidak ingin membebanimu tetapi hanya kamu yang kuyakin masih serius mau mendengarku. Fuadi sudah pusing dengan perusahaan keuangannya di Semarang. Sari sudah jadi cerpenis. Beberapa kali kulihat ia di televisi. Bintang mereka sedang bersinar aku tidak ingin meredupkannya. Sama sekali aku tidak ingin meredupkan nyala bintang yang saat ini berpijar di karirmu tetapi lebih karena aku percaya padamu, Rin.
Ta, aku pikir cukup dulu ya. Kalau memang satu waktu kamu tidak sibuk, bisa hubungi aku di 08156546903. Aku sengaja tidak menulis alamatku. Aku nggak ingin melibatkanmu terlalu jauh. Aku hanya ingin meminta pendapatmu.
Thanks before ya, Ta. Take care yourself!!!
Best regards,
Gilang
Pelan kututup surat Gilang. Aku sudah bisa memperkirakan jika suatu ketika ia menjadi orang sukses. Ketekunan dan kesabarannya tergolong di atas rata-rata termasuk di antara kami. Tetapi aku tidak menyangka, bahkan kaget usai membaca ceritanya. Begitu kompleks penderitaan yang ada di kehidupannya. Kini Tuhan tengah menguji kesabarannya. Ah, tiba-tiba saja aku merindukannya.
Usai membaca tulisan itu, aku tidak menyalahkan sikap Gilang. Meski juga tidak membenarkan sepenuhnya. Memang, tak sepantasnya ia memperlakukan istrinya seperti itu. Akan tetapi, aku juga paham karena sangat bisa jadi sikap itu adalah letupan dari kesedihan yang selama ini terpendam dalam sanubarinya.
Anganku melayang saat kami sekolah bersama. Penampilannya apa adanya tetapi selalu rapi. Kemeja lengan panjang digulung hingga tiga perempat, celana panjang lengkap dengan ikat pinggang. Tas ransel tidak pernah lepas dari punggungnya. Tidak berbeda jauh dengan aku dan Fuadi, meski kami tidak serapi Gilang. Sementara, Saria cukup feminin. Tubuh semampainya senantiasa terbalut blazer dan rok panjang. Berbeda dengan kami yang senantiasa memakai sepatu kets, Ayi, begitu kami memanggilnya, mengaku lebih suka memakai vantofel atau sepatu berhak lima centimeter.
—+++++—
Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Kantor redaksi tempatku bekerja sudah ramai. Beberapa teman sesama reporter tampak kembali dari lapangan. Wajah lelah tidak memupus senyum di bibir mereka. Cangkir berisi kopi panas atau teh hangat ada di tangan.
Aku sudah duduk di depan komputerku sejak pukul tiga. Tetapi aku bingung memulai sebuah tulisan. Padahal beritaku cukup banyak hari ini. Di kampus tempatku bertugas ada Gubernur Jatim yang membuka lomba jalan sehat sehat dan kami menanyakan sikapnya tentang kasus TKW yang sempat menjadi tawanan Irak.
Block note hanya kubolak-balik dari tadi tanpa tahu harus memulai darimana. Sesekali kulemparkan pandanganku ke luar jendela. Persoalan Gilang masih mengganggu pikiranku. Sejauh ini aku belum bisa menentukan sikap. Bahkan, beberapa hari ini, aku susah tidur. Padahal aku tergolong orang yang gampang tidur terlebih dalam kondisi lelah.
Aku tersentak saat seseorang memegang pundakku. Saat menoleh, senyum Mas Andar, redaktur Ekonomi Bisnis menyambutku.
“Ada apa, Ta? Kulihat sejak tadi kamu termenung.”
Aku tersenyum seraya menggeleng.
“Ndak apa-apa kok, Mas. Saya hanya capek. Jenuh.”
Mas Andar tertawa sekilas.
“Ah. Yang kutahu itu alasanmu saja. Kamu sangat mencintai pekerjaan ini. Kamu sedang ada masalah ya? Kamu bertengkar dengan kekasihmu?”
Aku tergelak sumbang.
“Ada-ada saja, Mas. Kekasih yang mana lagi. Mas kan tahu sendiri saya lebih sering di kantor meskipun hari libur. Saya juga sering bantu halaman Mas meskipun saya reporter pendidikan.”
“Walah lha kok kamu malah sewot tho, Ta. Ya sudahlah. Yang terpenting, tanya pada dirimu sendiri kaitan sebuah persoalan dengan perasaanmu. Kalau sudah, ambil cuti barang dua hari. Tujuannya kalau memang kamu ingin sendiri ya ke luar kota. Kalau kamu merasa cukup kuat ya selesaikan persoalan itu. Yang ingin aku tegaskan, kamu itu aset penting perusahaan ini. Tulisanmu bagus. Sering mendapat pujian pembaca meski kamu tergolong reporter baru di media ini. Tetapi kudengar, kemarin Pak Kino marah-marah karena alur tulisanmu tidak karuan. Tidak biasanya kamu seperti itu kan. Pak Kino kan yang sering membanggakan tulisanmu. Aku tidak mau karirmu tergusur hanya karena persoalan sepele. Nah, sekarang coba kamu renungkan.”
Usai berkata-kata, Mas Andar melangkah ke luar. Tinggal aku sendiri merenung. Kupikir-pikir benar juga apa yang dikatakannya barusan. Ah, aku memang harus segera menuntaskannya. Aku tidak ingin langkahku terhambat. Secepat kilat, kuambil hasil wawancaraku dan segera menyusunnya. Setelah itu aku pamit. Kebetulan aku libur hari Sabtu besok.
—++++—
Hari masih pagi. Masih pukul setengah delapan. Semalam aku telah merenungkannya. Aku sudah berencana menghubungi Gilang hari ini. Aku akan katakan padanya kalau aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku juga akan katakan kalau ia tidak sendiri. Ia masih memiliki aku yang siap kapan pun merengkuhnya. Menekuni setiap keluhannya. Mendengar cerita suksesnya. Merangkulnya. Memeluknya untuk membagi kesedihan. Akan kuserahkan waktu sesuai permintaannya. Kapan pun dia mau, aku akan dengan senang hati memberikannya. Aku akan senang melakukannya. Bukan untuk dan karena apa-apa. Tetapi lebih karena aku menyayanginya. Dia sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Sejak dulu, kemarin, sekarang, esok, lusa, dan selamanya. Ah, Gilang Sahabatku..tunggulah. Bersabarlah. Aku akan menjemputmu hari ini.

Monday, 28 January 2008

GAWAT...!!!!!!

JARUM jam dinding di kamarku hampir menyentuh angka tiga. Kantuk tak juga menghampiriku. Beberapa jam lalu, aku bertemu dengan Diana, sahabatku saat menjadi pelajar Sekolah Menengah Pertama dulu di Sidoarjo. Ia memang saat ini melanjutkan kuliah di Malang, tetapi sengaja menemuiku. Kaget juga saat aku menerima pesan singkatnya. Kutunggu kau di Delta 5. Aku nyampe sana ba’da Isya, insya Allah.
Delta 5 adalah tempat kami biasa berkumpul. Dulu, kami berlima di saat-saat tertentu. Aku, Diana, Kurniawan, Eko dan Febri. Lintas kegemaran justru menjadi perekat persahabatan kami. Setiap bertemu, kami berbagi cerita, bertukar tawa, mengurai duka tentang profesi masing-masing. Yah, beragam cerita karena memang kami berada dalam latar belakang hobi yang berbeda. Hanya Diana dan aku yang sama. Sesama penyuka dunia tulis-menulis. Menjadi penulis andal bagi Diana dan Jurnalis Olahraga bagi aku adalah impian kita masing-masing untuk masa depan.
Kurniawan calon gaet pariwisata handal sebuah perguruan tinggi papan atas di Surabaya. Febri, hmm, siapa tak kenal ia. Sebelum lulus SMP ia sudah melebarkan sayap terlebih dahulu di dunia kerja. Saat ini ia tidak melanjutkan kuliah, namun jabatan guru bahasa inggris di SMA faforit Malang ia pegang.
Sementara Eko menduduki jabatan perawat di sebuah rumah sakit ternama di Mojokerto, walaupun dengan catatan magang. Tapi satu-satu temanku yang salah kaprah ialah Diana. Dari awal hobinya menulis dan cita-citanya penulis handal. Tapi, Kabarnya setelah lulus SMA ia langsung kerja. Setahun kemudian, tercatat sebagai mahasiswi akuntansi di salah satu perguruan tinggi swasta Kota Malang.
------------------------******--------------------------
14 tahun telah berlalu.Aku memilih melanjutkan ilmuku di sekolah khusus wartawan. Dan memutuskan pula untuk jauh dari keluarga. Sudah satu tahun lebih aku ngekos. Karena profesiku yang sekaligus sudah 4 bulan kerja sebagai wartawati olahraga salah satu lembaga media milik pemerintah di Surabaya, intensitas bertemu dengan keluarga semakin lama semakin kurang. Apalagi bertemu dengan ke empat sahabat karibku itu. Hingga kemudian kami semua terpisahkan oleh bergulirnya waktu. Diana, dipindahkan perusahannya ke Malang dan otomatis Ia harus menetap di kota apel itu. Febri makin sibuk. Lalu Eko kabarnya naik jabatan menjadi karyawan tetap Rumah Sakit Swasta dan sudah dipindahkan di Nganjuk.
rasanya waktu ini cepat sekali, secepat gelindingan kalung kolosal. Tidak terasa 3 tahun 4 bulan aku belajar sebagai calon wartawan. Waktu yang aku lalui serasa begitu sangat cepat. rasanya sulit sekali meninggalkan masa-masa belajar dan bermain serta berkumpul dengan teman-teman kampus.
balutan topi hitam khas wisudawan menempel bangga dikepalaku. orang tua dan keluarga jauh-jauh datang dari Jakarta menyempatkan menyaksikan penyematan gelar sarjana sosial politik ku.
dasar palsu!!! dalam hatiku berkata, selama 3 tahun lebih lamanya aku sekolah ternyata penyematan gellar hanya didapatkan beberapa menit saja. rasanya tidak seimbang. tapi tak akan ku gubris lama-lama.
akhirnya akau bisa fokus dengan pekerjaanku tanpa harus memikirkan tugas kuliah dan teguran dosen. plong..
Itu hanya sekilas perjalan hidupku semasa menjadi pelajar. Hingga akhirnya aku bekerja tetap sebagai wartawan.
________________""""______________________
sudah 5 tahun lebih aku bekerja sebagai wartawan olah raga, capek juga tapi yang pasti aku tak akan bosan dengan profesiku sekarang.
Hingga kemudian sesuatu menghancurkan harapanku. Rasanya tak sanggup lagi. Tak ada yang lagi bisa kupertahankan di Surabaya ini. Maafkan. Akhirnya aku memilih pergi, Diana.
Begitu pesan singkatku pada Diana di ujung siang hari tadi, saat Diana mencoba menanyakan kabarku lewat pesan singkat. Tak ada balasan darinya. Mungkin Diana sedang mengakumulasi jumlah dana perusahaan yang sedang ia kerjakan. Bukankah itu kebiasaannya hingga tak terganggu oleh apapun. Tetapi jelang Maghrib, ada pesan singkat darinya.
Lepas Isya aku menuju Delta 5.
lalu aku mencoba membalas pesan singkatnya dengan cepat. aku pasti datang kawan, banyak hal yang ingin aku ceritakan"
Rupanya aku terlambat setengah jam, semua itu gara-gara jalan Semampir yang aku lalui sedang macet karena pemuja Tuhan Yesus baru keluar dari tempat sucinya. Diana telah ada di dalam. Kulihat ia sendirian saja. Entah kemana teman-temanya. Biasanya mereka selalu mengikuti kemanapun Diana pergi.
“Apa kabarmu, Di?”
Diana tersenyum dan mengucap terima kasih pada waitress yang mengantarkan pesananku.
“Duduklah. Kabarku baik.”
“Kenapa kau ke Surabaya, Di? Bukannya besok, kamu harus kerja?”
Diana tersenyum sekilas. Ia tahu betul bahwa yang kukatakan tak ada bedanya dengan istilah basa basi.
“Kau tahu kan, Fi, kenapa aku ke sini. Aku hanya ingin menemuimu. Meminta penjelasan atas sms yang kau kirim padaku siang tadi. Oke kalo kamu ingin kujawab pertanyaanmu. Aku baik-baik. Begitu pula kerjaanku. Apa sih susahnya jadi akuntan. Tetapi tenang sajalah, kau tak perlu marah padaku. Aku punya simpenan data anggaran untuk besok kok. Murni hasil kerjaku tadi pagi yang memang sudah aku perhitungkan untuk besok. Kujamin bosku akan senang. Cukup kan? Oke, sekarang kuminta penjelasanmu. Kenapa begitu?”
Aku menghela napas panjang. Kulemparkan pandangan ke luar café. Lalu lintas masih padat. Belum genap pukul delapan malam. Masih kelewat dini bagi Surabaya untuk menutup matanya.
“Malah diam.. Aku nggak habis mikir, Fi. Mana Arfi yang kukenal sebelumnya. Kenapa kau tiba-tiba patah begini? Nggak bisa dikomunikasikankah? Sebegitu ruwetnya? Kau kan peng-agung sharing sesama kawan kan. Tetapi kenapa Begawan sharing dan peng-agung persahabatan itu kini luluh tanpa daya? Berbagilah, Fi….”
Aku belum membuka suara. Sosok yang kini ada di hadapanku itu kelewat susah terbantah. Aku mengenalnya sudah bertahun-tahun. bahkan ia sudah aku anggap keluarga sendiri. Diana lah satu-satunya sahabat yang masih bisa berkomunikasi denganku, walaupun dapat dihitung dengan jariku ini. Kami saling mengenal satu sama lain. Dikenal kompak di kalangan SMP dulu. Arfi dan Diana.
Aku belum mampu mengawali pembicaraan. Terlampau susah. Kuambil gelas hot chocolate sekadar untuk pembasuh kerongkongan. Diana menatapku lekat-lekat. Tangannya terulur kepadaku. Disentuhnya perlahan tanganku.
“Fi, ada apa denganmu?”
Lembut suaranya meluluhkan pertahananku. Aku terisak perlahan.
“Boleh aku menangis, Di?”
Diana mengangguk.
“Menangislah, Fi. Lepaskan bebanmu. Nggak ada yang melarangmu. Menangislah…”
Tak berapa lama usai Diana mengatakan hal itu. Tangisku meledak. Pertahananku jebol. Bahuku terguncang. Diana membiarkannya. Beberapa menit kemudian tangisku reda.
“Sudah nangisnya? Mumpung nggak ada Eko, Febri atau kurniawan di sini. mereka kan yang selalu merasa aneh jika melihat kita, apalagi kamu, menangis. Dikiranya kita nggak bisa nangis. Nggak pantes katanya kan. apalagi melihat ibu wartawan ini nangis sampai kayak gini, hehe..”
Seloroh Diana membuatku sedikit tersenyum. Lalu tanpa henti, aku bercerita tentang hal yang meresahkanku. Tentang faktor yang mendukung hingga kemudian aku memutuskan sesuatu.
“Lalu kamu memilih pergi?”
Suara Diana seolah menggantung di udara. Aku terdiam. Keterdiaman kami luruh bersama deru lalu lintas Surabaya di sekeliling kami.
“Mungkin. Aku nggak ingin terus-terusan menangis dalam situasi yang kukira nggak wajar. Di luar batas kewajaran. Paling luar malahan”
“Tetapi tidak dengan meninggalkannya kan. Bukankah impianmu baru saja dimulai? Dulu, kau bercita-cita mengelola media. Lalu kau menjadikannya keyakinan. Sejak kecil. Kau konsisten untuk mengikuti alur menuju terwujudnya impian itu. Banyak hal dan halangan yang mengikuti langkahmu. Kau nggak mundur.”
Aku masih diam.
“Kini, Fi, semuanya hampir jelas. Semuanya hampir di tangan. Lantas kamu akan memilih pergi. Jangan jadi pecundang bagi diri sendiri begitu…”
“Aku bahkan tidak tahu apa yang mesti kukerjakan. Aku mundur dari pekerjaanku. Aku pergi dari Surabaya. Lalu aku akan mulai kehidupanku yang baru. Di tempat lain, Di. Di tempat yang orang lain belum kenal siapa itu Arfi.”
”Itu berarti kamu akan memulainya dari awal. Kau akan menghapus relasi-relasi yang telah terjalin.”
Aku mengangguk. Perlahan. Air mata kembali turun dari lembah mataku. Tak mampu lagi kutahan.
Diana merangkul bahuku. Segera saja tangisku kembali pecah. Bahuku terguncang.
“Setahuku, sampai hari ini kamu itu perempuan hebat sekaligus kuat yang pernah kukenal. Tak pernah mundur. Sekeras apapun halangan dan tekanan. Kamu akan melawannya. Itu artinya kamu kuat. Menangis itu wajar. Siapapun yang terkena tekanan pasti akan mengekspresikan emosinya dengan caranya sendiri. Dan itu biasa..”
Suara Diana tertata kuat. Ia menatapku lekat-lekat. Aku tahu artinya. Aku paham makna pandangan itu. Pandangan yang penuh kasih sayang.
“Fi, yang tidak biasa adalah kalau menangis dan sadar sampai kapan akan menangis dan kapan akan kembali tertawa. itu yang namanya orang kuat. Dan itulah yang selama ini kuteladani darimu. Kamu selalu optimistis akan tiba waktunya kamu sembuh. Dengan kamu yakin kalo itu soal waktu, artinya kamu sudah menyadari dan bisa memperkirakan sampai kapan sakit itu akan berlangsung. Kalo sudah begitu jelaslah harapan sembuh di depan mata. Jarang orang sakit punya bayangan sembuh sedekat dan sejelas kamu.”
Aku masih belum menyahut.
“Semestinya kamu bahagia, Fi. Hidupmu hampir sempurna. Cita-cita ada di depan mata, pasangan jiwa ada di sebelah raga. Ia datang tepat pada waktunya. Saat jiwamu ingin berlabuh. Lalu kenapa kau melakukan kesalahan yang bodoh. kenapa lelaki itu harus datang saat hidupmu kian sempurna. dan bodohnya lagi kenapa gara-gara laki-laki tak tau diri itu kau rela menutup jalan mulus kesempurnaan hidupmu. semua ada Apa yang kau cari lagi bodoh..?”
"dan sekarang kau baru tau rasa akibat dari hubungan bodohmu dengan lelaki itu!"
aku merasa terdiam. seperti terdakwa yang sedang diadili hakim dan serasa pula dituntut jaksa.
" aku mau tanya, mas mu tau tentang hal ini? " tanya nya lagi.
" ia tidak tau?"
"sungguh lelaki yang sempurna"
"sebenarnya apa alasanmu melakukan semua ini?"
“aku sudah bosan dengan sikap mas ku. Dia seakan-akan tidak memiliki rasa bahwa ia telah mempunyai calon istri, walaupun masih calon..bela ku seakan-akan semua masalah yang ada karena ulah mas ku”
Aku kembali nyerocos hingga tak tau kalau Diana ganti yang diam dan seakan-akan ia berposisi sebagai terdakwa.
Aku menghela napas panjang. Dan mlanjutkan pembelaanku.
“Tadi sore Masku sms, masih bilang kalo kangen. Ia bilang sibuk hingga beberapa hari ke depan. Ia minta doaku agar ia bisa melewati semuanya dengan sukses. Kujawab tentu aku akan selalu mendoakanmu. Tetapi apa sibuk banget itu berarti kita nggak bisa – nggak boleh – untuk menghubungi satu sama lain. Setelah itu aku tertidur, lelah luar biasa… jam setengah 12 an aku lihat ada sms darinya… Begini bunyinya, ya kalo jarang iya. Maaf saya harus fokus dengan kerjaanku. Kamu tahu kan dek, sebentar lagi akn kenaikan jabatan, aku mohon kamu ngerti posisiku, slm.”
Diana menatapku begitu rupa. Ia memahami posisiku. Aku melanjutkan ceritaku. Aku merasa itu kalimat yang aneh. .. tapi aku terpukul sekali, Ya. Aku nggak mungkin menghubunginya. Aku yakin itu. Apa yang terjadi ? Aku belum tahu sesungguhnya. Aku tidak mengerti. Mungkin ada hal yang membuatnya demikian terpukul. Entah apa. Aku ingat betapa matanya berpijar saat memandangku, tanda betapa ia menyayangi aku. Aku selalu menangkap senyum manis terukir di bibirnya setiap kali memandangku. Aku tahu makna senyum itu. Ia mencintai aku. Aku juga merasakan betapa ia membutuhkan demikian pula sedemikian butuhnya aku bersandar di bahunya. Ia tak keberatan mengajariku tiap detik bagaimana menyayangi seseorang. Ia tahu aku sempat terpuruk karena dilema dengan profesi yang memaksaku untuk tidak mengurusi keluarga dimasa depanku nantinya, tapi itu sudah berlalu. Ia tahu bahwa aku mesti tertatih, belajar menyayangi seseorang, dan juga belajar menjadi seorang wanita yang tau kodrat, tidak menjadi wanita duniawi dengan selalu memikirkan karirku. Aku ingin belajar. Tentu dengan mendendangkan harapan pada setiap langkah.
“Tetapi, Di,” kembali lagi aku menjelakan suatu hal pada Diana. Tapi tiba-tiba saja terpotong oleh sekatan Diana seraya membentakku.
“Tapi Ternyata harapan itu pupus kan. Mas Bani mu datang seakan –akan sebagai pahlawan yang mencoba menggantikan posisi mas mu. Tapi lambat laun ternyata ia malah menghancurkanmu”
“Aku lelah, Di. Aku lelah sekali.”
“Fi, apa kau sudah terlanjur jatuh cinta dengan Bani busuk itu?” dan apakah kau sudah tidak setia dengan mas mu?”
Perkataan Diana terus terngiang-ngiang dalam telingaku.
“Kau diam artinya Iya”
“tapi untung saja ia sudah mengecewakanmu, dengan berkedok sebagai lajang berperawakan sholeh. Cuihh..palsu!”ternyata sudah beristri. Tapi kenapa temanku satu ini yang dari dulu terkenal jeli, pintar, dan paling top diantara yang lain kena jebak ya..aku semakin heran..”
“ Sudah lah Di, kalau kau semakin mengungkitnya aku akan pergi sekarang juga, kataku emosi.”
Dasar busuk, Diana tak mau mengerti juga apa yang aku inginkan. Dia terus saja nyerocos.
“ berapa orang yang sudah kau kirim undangan?”
setan apa yang mempengaruhiku hingga aku menjawab apa yang dilontarkan oleh Diana.
‘ ada sekitar 125 orang. Itupun hanya orang Media saja. “
Mas Mu tau?
“Belum”
“Bodoh!”
“maksudmu?”
“Iya, kesalahanmu sudah parah, mau tunangan denga orang lain padahal sudah punya pasangan, mending kalau tunangannya itu jelas, lha wong sudah punya istri,”
tangis ku lagi, mungkin ini adalah tangisan yang paling kencang selama hidupku. Aku tak peduli orang-orang yang sedang menikmati nasi goreng dan Es Jus terganggu dengan tangisanku. Bukan meminta empati dari mereka tapi setidaknya dengan tangisan itu aku sedikit lega.
“Aku malu Di, aku sudah capek dipermainkan,kenapa Di, karirku bagus, cita-citaku tercapai, tapi mengenai hati, aku kalah, kenapa Di”
“itu karena kau manusia, kalau semua kelebihan kau punya, itu ga Fair namanya non, terus yang lain dapet kekurangan saja dong”
tiba-tiba semuanya luluh begitu saja karena guyonan Diana yang terasa memaksa. Tapi setidaknya aku bisa menghapus air mata ini untuk sesaat.
“Apa rencana mu?”
Perkataan Diana menggantung di udara. Aku tak lagi mendengarnya. Kulanjutkan perkataanku.
Tetapi, Fi… Bukan lantas keluar kerja. Bukan dengan meninggalkan semuanya kan ya… ”
“Ya, Di, aku akan keluar kerja. Seterusnya. Pergi dari perusahaan ini. Terlalu rumit persoalan yang kuhadapi. Pergi dari Surabaya. Mungkin esok aku akan pamit ke Pimpinan redaksi dan Direktur eksekutif perusahaanku. Sekuat tenaga aku akan deal-kan proyek lain tentunya didaerah yang sangat jauh. Dibantu dengan rekan kerjaku yangbaru jugab tentunya. Aku ingin menebus semuanya.”
Diana menghela napas lalu menghempaskannya kuat-kuat.
“Yah, Di. Akhir minggu ini, aku akan pergi dari Surabaya. Ganti nomor ponsel. Aku akan melupakan semuanya. Aku akan memulai kehidupan yang baru. Jauh di sana. Di tempat yang tidak ada yang mengenalku. Berat memang tanpa Mas ku di sampingku, Tetapi aku harus bisa. Sama dengan saat aku memasuki Surabaya empat tahun lalu.”
“Kau mau bilang apa dengan mas mu? Saat ini mas mu kertas putih tapi dalam kondisi buta. Ia tak tau kau sedang memberikan warna kertas hidupnya dengan warna apa? Dan itu menguntungkanmu”
“Pecundang yah, Di. Biarlah. Semua orang yang mengenalku bisa dipastikan tak akan habis pikir dengan apa yang kuputuskan. Engkau juga mungkin. Biarlah. Aku kalah kali ini. Kalau ada yang bilang aku tak kenal kalah, mungkin saat ini ia kecewa. Kecewa dengan keputusan yang kuambil. Apalagi kau dan relasi kerjaku lainnya, kalian juga mungkin tak putus mengerti”
“Yah, Di. Aku yakin suatu ketika perusahaan itu akan menjadi besar. Aku akan melihatnya dari jauh. Aku sangat berharap komitmen teman-teman akan selalu menjaga itu ya. Hingga bisa mengawal dan mendukung perusahaan sampai mencapai saat itu. Begitupun juga dengan Mas Gilang, dari jauh aku pasti mendoakanya. Aku akan melihatnya dari jauh. Seyogyanya aku berterima kasih pada mereka semuanya.”
Diana menghela napas. Ia sudah kehabisan kata untuk menghalangi kepergianku. Hingga kemudian ia memilih diam. Hingga kemudian kami berpisah.
“Ya sudahlah kalau kemudian itu yang kamu pilih. Aku tahu kamu paham yang terbaik buatmu sendiri. Pergilah, Fi. Yang jelas aku berpikir bahwa seyogyanya mas mu bersyukur memilikimu. Dan tidak akan menyia-nyiakanmu.” Relannya sembari mencoba sekali lagi menghalangiku pergi, walaupun semua itu sudah tak berarti lagi buatku.
Aku menghela napas panjang. Mengingat perkataanku Diana padaku. Jarum jam dinding menunjuk pada tujuh pagi. Pukul tujuh lewat sedikit. Genap semalam aku tak tidur. Entah kenapa aku lega hari ini. Aku tetap matahari yang selalu akan menyimpan cintanya buat sang bintang. Sampai kapan pun itu. Aku juga tidak akan menyesal melakukannya. Menjaga cinta itu. Biarlah. Satu saat aku yakin ia akan menyadari betapa sayang aku padanya. Kuambil ponselku. Kukirim pesan untuk Diana.
Allah menunjukkan jalan ini. Entah sebesar juga seindah anugerah yang tengah dipersiapkan-Nya padaku hingga aku didera seperti ini. Pastinya ada anugerah terindah setelah ini. Doakan ya, Di.
Terbesit dibenakku sesaat itu, langsung sebuah pesan terakhir untuk mas Gilang kau kirim.
Aku selalu mendoakan kamu hingga seluruh keinginanmu terwujud, tapi sayang hanya dari jauh. Tapi speerti yang sudah-sudah, pesan terakhir dari aku itu pun dijawab datar oleh dia.
Ngobrolnya nanti aja yah, aku masih sibuk banget. Slm.
Pesan itu Semakin menguatkan langkahku.
Dan beberapa detik hand phone ku bunyi. Aku tersadar kalau aku baru bangun dari mimpi ku. Dan……………….Gara-gara mimpi itu. Aku tersadar pula kalau aku………. telat kuliah.ahaahah….. Gawat…!!!!!!